Sepatu Kulit Larici/KATADATA.CO.ID

Sepatu Kulit Larici/KATADATA.CO.ID

Jakarta, LiputanIslam.com – Sepatu kulit lekat sekali dengan penampilan yang eklusif. Maka tak heran jika sepatu kulit memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan sepatu berbahan lainnya. Lagipula, sepatu kulit bisa lebih awet hingga puluhan tahun jika dirawat dengan benar. Warga Jakarta sebenarnya tak perlu jauh-jauh datang ke Cibaduyut, selain sudah bisa membeli melalui online shop, pilihan dan modelnya pun beragam.

Namun, demi melihat produk aslinya dan mencoba secara langsung tentu konsumen harus datang ke toko sepatunya. Jika Cibaduyut dirasa terlalu jauh, maka ada sebuah pilihan menarik bagi penggemar sepatu boots di sekitar Kemang, Jakarta Selatan. Kawasan yang berdekatan dengan perumahan elite dan apartemen tersebut sudah memiliki pelanggan tetap baik warga lokal hingga ekspatriat.

Bagi para pemburu sepatu kulit—khususnya boots—yang tidak mengutamakan soal merek, Larici bisa menjadi alternatif. Bahan bakunya dijamin kulit asli. “Makanya tidak mengelupas,” kata Elli. Selain itu, meski handmade, kerapian dan kenyamanannya tak kalah oleh sepatu-sepatu bermerek buatan pabrik alias branded.

Yang membuatnya istimewa, ukuran sepatu bisa dipesan sesuka hati pembeli: baik model, warna, maupun ukuran yang benar-benar sesuai kaki. Kelebihan lainnya, terletak pada layanan purna jual—sesuatu yang tak mungkin didapat lewat pembelian di mal, seperti dilansir dari katadata.co.id.

Elli dengan ramah menjelaskan kepada para pembeli bagaimana cara perawatan kulit sepatu produknya agar tak mudah rusak. Kalau pun telanjur rusak atau aus, tapi si empunya masih sayang dengan sepatu miliknya—atau karena mau berhemat—sepatu bisa dibawa kembali ke toko Larici untuk diperbaiki.

Di luar itu semua, yang membuat Larici layak dilirik, karena harganya yang super miring. Dengan kualitas yang sama untuk sepatu di pusat-pusat perbelanjaan modern, harga sepatu Larici bisa hanya separuhnya.

Tentang ini, Elli membuka rahasianya. Salah satunya, karena bisnisnya yang tergolong Usaha Kecil-Menengah (UKM) ini memanfaatkan bahan-bahan baku kulit tak lolos sortir.

“Perusahaan besar kan tidak mau barang reject,” kata perempuan asal Padang ini. Sedangkan Larici yang berbasis home-industry, bisa tetap memanfaatkannya. “Bagian yang cacat, kami buang. Tapi, yang selebihnya kan bisa dipergunakan,” ujarnya. “Jadi, produk kami murah, bukan karena kulitnya jelek.”

Di rumah yang sekaligus menjadi tokonya itu, tinggal juga empat karyawan yang membantunya sehari-hari memproduksi sepatu. “Sehari, sekitar 10 pasang sepatu yang dihasilkan,” ujarnya ketika ditanya besaran skala produksinya. Kisaran harganya bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 700 ribu.

Elli sejatinya memiliki latar belakang pendidikan di bidang perbankan, yang digelutinya saat kuliah di UPN Pondok Labu. Namun, bisnis sepatu tampaknya sudah menjadi pilihan hidup yang akan terus digelutinya.

Anaknya yang kini kuliah di Universitas Indonesia pun mulai menaruh minat untuk semakin mengembangkan bisnis Larici. “Sayang kalau tidak ada yang meneruskan,” ujarnya. “Apalagi, sudah ada pelanggan tetap, seperti kelompok marching band yang selalu memesan sepatu boots-nya ke sini.” (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL