Sumber: nu.or.id

Lombok, LiputanIslam.com– Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjen PBNU), H A Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa pengelola atau pimpinan pondok pesantren tidak hanya cukup cerdas, tetapi juga harus kreatif. Menurutnya, dengan adanya kreatifitas, maka pesantren bisa terus berinovasi menyesuaikan diri di zaman milenial ini.

Hal itu disampaikan Helmy saat meresmikan Rumah Aspirasi dan Berugak Baca Helmy Faishal Zaini di Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), seperti dilansir NU Online, pada Kamis (22/2).

Helmy mencontohkan sejumlah pesantren kreatif di Indonesia yang bisa dijadikan acuan dalam mengembangkan pesantren. Ada yang kreatif di bidang ekonomi, sosial kemasyarakatan, kesehatan dan juga dakwah. Secara khusus, ia menyebut Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan Jawa Timur. Pesantren ini menurutnya, berhasil mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro Syariah melalui pendirian Baitul Maal Wat Tamwil (BMT).

“Melalui BMT, Sidogiri berhasil memerankan diri tidak hanya sebagai pesantren tempat belajar agama ribuan santri, tapi juga sukses memberdayakan dan mendorong kemandirian pesantrennya, kemandirian santri, alumni dan masyarakat luas di Jawa Timur,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa pesantren Sidogiri luar biasa. “Mengawali BMT dengan modal hanya 50 juta, sekarang memiliki ratusan cabang dan omsetnya mencapai 3.5 triliun. Hal tersebut bisa dilakukan Sidogiri karena pesantren ini menggunakan daya kreatifnya sehingga inovasi bisa terus dilakukan,” terangnya.

“Pesantren di Cicalengka Jawa Barat yang melakukan pemberdayaan dengan cara mengajak masyakat menanam satu jenis tanaman khusus di halaman rumah. Kalau di sini, pesantren mengambil peran pemodal sekaligus pengepul, masyarakat diajak bertanam, lalu hasilnya dijual ke pesantren,” ucap Helmy menambahkan. (Ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*