Sumber: kemenag.go.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag), M Nur Kholis Setiawan mengatakan bahwa puasa bukan hanya sebuah ibadah wajib orang-orang muslim. Bukan juga sekedar rutinitas. Puasa, menurutnya merupakan suatu sarana dan proses agar kita pandai bersyukur.

Demikian hal itu disampaikan Nur Kholis saat memberikan kultum setelah Shalat Dzuhur berjamaah di Musholla At-Tarbiyah Lantai VIII Gedung Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta, seperti dilansir kemenag.go.id, pada Kamis (9/5).

“Puasa tidak sekedar ibadah rutin tetapi menjadikan kita agar pandai bersyukur dan ridlo atas apa yang diberikan Tuhan” ucapnya.

Menukil ungkapan Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tasawuf Syadziliyah dalam kitabnya Al-Mafaakhirul ‘Aaliyah fil Maasiris-Syaadziliyah, Nur Kholis menyatakan “Idza aradta an tandzura ila allahi bi-bashiratil imani wal-iqani daiman fakun lini’amillah syaakiran wa-biqadhaaihi raadliyan, Jika kamu ingin diberikan anugerah melihat Allah dengan basyirah keimanan dan keyakinan, maka teruslah senantiasa bersyukur atas segala anugerah nikmat dari-Nya dan selalu rela dan ridla atas segela ketentuan-Nya.”

Menurutnya, kata bashirah dalam kalimat itu bisa dimaknai sebagai mata batin. Semakin diasah, mata batin akan semakin bagus. Ini berbeda dengan kata “ainun” yang diartikan sebagai mata dalam pengertian biologis. “Kalau mata,  makin tua bukan semakin bagus, dan kadang mudah tertipu,” terangnya.

Agar bisa melihat kebenaran Tuhan, lanjut dia, manusia harus rela (ridla) atas segala hal yang telah ditentukan Allah Swt. “Bersyukur atas nikmat Allah dan rela akan ketentuan-Nya, maka itu bisa menjadi indikator bahwa puasa yang kita lakukan berkualitas,” tandas Nur. (aw/kemenag).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*