Sumber: nu.or.id

Bali, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj menyatakan bahwa hakikat agama itu ialah kemanusiaan. Menurutnya, sejak manusia diciptakan di muka bumi ini, sampai nanti kembali kepada Tuhannya, ada amanat sebelum amanat beragama, yakni amanat kemanusiaan.

“Jadi agama apapun yang diturunkan oleh Tuhan sebenarnya untuk memperkuat hubungan yang harmonis diantara kita semua sebagai manusia. Percuma ada agama jika tidak mengajarkan keharmonisan dalam bermasyarakat,” ujar Said Aqil saat orasi kebangsaan pada Buka Puasa Kebangsaan, yang diadakan Kodam IX Udayana di Komplek Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran Badung Bali, Selasa (20/06).

Kiai Said menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian dan keselamatan. Sebagai seorang muslim wajib membela agama Islam tapi dengan cara-cara yang mulia, tidak dengan cara yang tidak mulia, yang malah justru mencoreng nama baik Islam.

“Tidak benar jika ada orang Islam yang katanya membela Islam dengan melakukan teror, bom, membunuh manusia, seperti Amrozi yang ngebom  Bali, Wallahi dan demi Allah itu bertentangan dengan agama Islam. Jadi tidak boleh, kita menganggap musuh karena hanya beda agama suku dan golongan, kecuali kepada mereka yang zalim,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan, Agama dan Nasionalime harus bersinergi. Menurutnya, Islam saja belum tentu bisa menyatukan umat. Sementara, Nasionalisme saja tanpa agama hanya akan menjadi nasionalisme yang kering dan liar.

“Ternyata benar apa yang disampaikan pendiri NU KH HAsyim Asy’ari ini, ketika hari ini menyaksikan berbagai gejolak di Negara-negara Timur Tengah yang padahal seratus persen islam, tapi saling bunuh, saling ngebom,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Said menjelaskan bagaimana di Indonesia hubungan agama dan nasionalisme telah berjalan dengan baik. “Di Indonesia Alhamdulillah, Ulama-ulama NU adalah ulama yang Nasionalis, dan Nasionalis yang Ulama. Dan Pancasila sudah menggambarkan bagaimana nilai-nilai agama dan nasionalisme melebur menjadi 5 sila dalam Pancasila,” tuturnya. (Ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL