Surabaya, LiputanIslam.com –   Ribuan massa yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya Komite Umat Islam Anti Amerika dan Israel (KUMAIL) menggelar unjuk rasa di depan gedung Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Jl. Jalan Citra Raya Niaga, Surabaya, Jumat (31/5/2019).

Unjuk rasa ini digelar untuk menandai peringatan Hari al-Quds Internasional, yaitu hari peduli Palestina yang diadakan pada setiap hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan.

Massa peserta unjuk rasa terdiri dari laki dan perempuan dengan berbagai usia, mulai kanak-kanak hingga yang berusia lanjut. Mereka berdatangan ke lokasi yang dijaga oleh ratusan aparat kepolisian usai waktu shalat Jumat hingga sore.

Mereka berdatangan dengan beberapa bus, mobil pribadi, dan sepeda motor, dan kemudian beraksi secara damai dan tertib dengan mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina serta membentangkan spanduk dan atribut-atribut bertuliskan pembelaan Palestina dan kutukan terhadap Israel dan AS.

Beberapa spanduk dan poster di antaranya bertuliskan slogan-slogan berbahasa Inggris antara lain “save Palestine” (selamatkan Palestina), “Israel is not real, it must be destroyed” (Israel tidak nyata, harus dihancurkan), sedangkan yang berbahasa Indonesia antara lain “Quds Garis Merah”, dan “Stop Blokade Gaza”.

Beberapa orang telah tampil menyampaikan orasi di atas podium aksi yang berlangsung di tengah terik mentari ini. Massa tampak antusias menjalankan aksi meskipun  sedang menunaikan ibadah puasa, namun sedikitnya satu perempuan muda lemas dan nyaris pingsan saat mendengarkan orasi akibat keletihan sehingga digotong ke arah ambulan oleh petugas.

Aktivis Anwar Aris dalam orasinya menegaskan bahwa Rezim Zionis Israel adalah “rezim palsu” yang didukung oleh “negara yang sok kuasa” di dunia. Menurutnya, Israel tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai negara yang berdaulat, dan Hari al-Quds adalah hari untuk mengungkap kepalsuan itu.

Dia juga menyebutkan bahwa Israel telah membantai banyak Muslim maupun non-Muslim di Palestina, dan Ir. Soekarno adalah presiden pertama di dunia yang menolak eksistensi Israel.

Habib Mohammad Bsa juga tampil membawa orasi dengan menegaskan keyakinannya bahwa Al-Quds akan segera kembali ke tangan umat Islam, dan bahwa Hari al-Quds kali ini lebih penting untuk diperingati karena Israel dan sekutunya sekarang semakin menggila dalam menebar kejahatan, kebiadaban, dan kesewenang-wenangan.

Selain mengutuk Israel dan AS dia juga mengecam rezim-rezim Arab yang berkompromi dengan Israel.

“Hari ini kita protes kepada rezim-rezim Arab yang berkhianat kepada bangsa Palestina,” pekiknya.

Baca: Para Pejuang Palestina Serukan Peringatan Hari Al-Quds Internasional

Dia juga menjelaskan bahwa rezim Arab Saudi telah mengucurkan dana 700 miliar USD untuk mendanai pembangunan kota-kota di Yordania, Irak, dan lain-lain untuk penempatan para pengungsi Palestina agar mereka tidak pulang ke kampung halaman mereka yang telah dirampas oleh kaum Zionis Israel.

Dia juga mengingatkan bahwa memperingati Hari Al-Quds merupakan ibadah mulia yang beratnya masih terlampau kecil dan remeh dibanding derita dan beban perjuangan bangsa Palestina.

Ustadz Mukhtar Lutfi juga berorasi dengan menegaskan bahwa keberpihakan kepada kebenaran dan kepedulian kepada kaum terjajah dan tertindas, terlepas dari agama apapun yang dipeluk oleh kaum itu, merupakan penunaian amanat agama, hati nurani, dan konstitusi Indonesia.

Dia juga mengatakan bahwa AS bersekongkol dengan kaum Zionis Israel yang menebar kejahatan atas nama agama Yahudi.

“Di mana ada Israel di situ juga ada kepentingan AS, dan di mana ada kekeacauan di dunia di situ ada campurtangan AS, termasuk pada kericuhan yang terjadi Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, adanya tangan-tangan kotor imperialis dalam kericuhan pasca pemilu di Indonesia terlihat antara lain dari kemunculan “kelompok-kelompok bodoh” yang mengatasnamakan Islam sambil melakukan modus-modus kejahatan yang juga telah diterapkan oleh para ekstremis dalam mengacaukan  Suriah.

Mukhtar juga mengatakan bahwa Hamas yang Sunni di Palestina bersatu dengan Hizbullah yang Syiah di Lebanon sehingga menciptakan kepanikan dan ketakutan pada kubu AS dan Israel, sementara Hamas dan Hizbullah didukung oleh negara-negara independen seperti Iran dan Indonesia.

Dia juga menegaskan bahwa negara-negara Arab tidak mendapat keuntungan apapun dari AS meski merunduk dan “bersujud” kepada AS.

Baca: [FOTO] Meriahnya Peringatan Hari Al-Quds di Iran

Habib Abdillah Baabud  dalam orasinya menjelaskan makna partisipasi dalam peringatan Hari al-Quds sebagai bentuk kepedulian yang bukan saja dapat melipur lara korban kejahatan, melainkan juga dapat memberikan energi yang sangat besar dalam perlawanan terhadap pihak yang zalim.

Dia juga menyebutkan bahwa negara-negara Arab menganggap isu Palestina sudah tuntas dan layak dilupakan sehingga mereka tak segan-segan “bermesraan” dengan AS serta menelantarkan dan mengkhinati bangsa Palestina.

Dia mengapresiasi kebijakan Presiden Indonesia Joko Widodo yang menyerukan boikot Israel. Menurutnya, seandainya semua negara Arab menunjukkan kebijakan seperti Indonesia niscaya Israel akan tumbang, dan ketegasan sikap Indonesia ini membuat Presiden Joko Widodo dimusuhi oleh kekuatan-kekuatan imperialis asing.

Habib Zahir Bin Yahya juga berorasi dengan menekankan bahwa gagasan untuk solusi Palestina yang diajukan oleh AS “selalu berujung pada situasi yang semakin buruk, termasuk Perjanjian Abad (Deal of the Century), yang melucuti hak bangsa Palestina.”

Dia juga menilai beberapa rezim Arab telah menjual bangsa Palestina demi melanggengkan kursi kekuasaan mereka sehingga menyokong Perjanjian Abad.

Dia menjelaskan bahwa AS sedang “mengecek nadi umat Islam dengan membuat keputusan dan langkah gila”, termasuk menjadikan al-Quds sebagai ibu kota Israel dan menyerahkan secara sepihak kawasan Tepi Barat dan Golan kepada kepada Israel.

Menurutnya, AS sedang mengecek apakah masih ada martabat dan rasa cemburu di hati kaum Muslimin ketika menyaksikan perlakuan demikian.

Baca: Presiden Iran Serukan Pawai Akbar Hari Al-Quds Internasional

Habib Zahir lantas merespon penjajakan AS itu dengan menegaskan, “Apabila saatnya tiba maka jiwa ini akan kita persembahkan demi membela bangsa Palestina. Kita tidak akan pernah puas dengan air mata, kata, dan aksara.”

Ustadz Dr. Muhsin Labib yang juga seorang habib tampil ke podium dengan menerangkan bahwa Hari al-Quds bukan untuk menyadarkan Israel dan AS, karena keduanya tak mungkin bisa disadarkan, melainkan untuk mengedukasi diri sendiri agar tidak menjadi bagian dari Zionisme.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan ikon perintis dan pelopor yang harus menunjukkan dukungannya kepada bangsa tertindas, terutama Palestina.

Dia menilai isu Palestina bukan isu agama, melainkan isu kemanusiaan sehingga tidak ada kaitannya dengan ras dan agama.

“Agama malah terkadang dijadikan alat penindasan dan bahkan pemenggalan kepala sesama umat Islam,” ujarnya.

Di bagian akhir aksi ini massa melakukan aksi membakar bendera Israel yang dilanjutkan dengan pembacaan komunike dukungan kepada bangsa Palestina.

Tak cukup di situ, massa Kumail melanjutkan aksinya dengan beralih lokasi dan menggelar longmarch di sekitar Taman Bungkul Surabaya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*