rhesaBandung, LiputanIslam.com –Indonesia tak pernah kehabisan anak muda yang cerdas dan inovatif. Baru-baru ini, Rhesa Avila Zainal, 21 tahun, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, berhasil merampungkan tahap awal dari eksperimennya tentang semen hidup. Karya inovasi itu menjadi salah satu karya paling menonjol dalam ITB Innovators Move 2015.

Rhesa yang dibantu teman sejawatnya, Corwin Rudly, mendapatkan ide untuk melakukan eksperimen unik tersebut setelah dia memperhatikan salah satu permasalahan kronis Indonesia, yakni infrastruktur jalan yang sangat mudah rusak akibat digerus air dan banjir. Diajuga melakukan riset dengan mengumpulkan sejumlah referensi dari surat kabar maupun media lain untuk mempertajam pokok pembahasan temanya. Dari riset penajaman masalah itu, ia memperoleh informasi tentang anggaran untuk perbaikan jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara) yang cukup fantastis, Rp 1,7 triliun per tahun. Data lainnya adalah perihal anggaran perbaikan jalan yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta yang mencapai Rp 250 miliar per tahun.

“Biaya yang diperlukan untuk perbaikan jalan begitu besar. Karena itu, saya mengajukan karya inovasi semen hidup untuk menekan biaya renovasi, bahkan menghapusnya,’’ ujar Rhesa.

Berbekal ilmu yang didapat di kelas kimia, Rhesa lantas mengaplikasikan makhluk hidup renik atau mikroorganisme ke dalam campuran semen sebagai bahan baku pembuatan beton. Mikroorganisme yang cocok untuk inovasi itu masuk dalam rumpun atau tipe bacillus. Bakteri tersebut dipilih karena bisa mengeluarkan kotoran berupa zat kapur. Cocok dengan bahan baku semen yang juga zat kapur.

Sifat lain mikroorganisme yang satu ini juga unik. Jika mendapati lingkungan yang tidak cocok, ia akan menjadi spora. Dalam bahasa sederhana, mikroorganisme tipe bacillus akan mati suri sendiri dan akan hidup lagi pada saatnya. Rangsangan yang paling ampuh untuk membuat mikroba tersebut hidup lagi adalah air hujan.

Jadi, ketika ada beton yang terbuat dari campuran semen dan bakteri bacillus itu yang retak, masyarakat tidak perlu cemas. Dengan bantuan guyuran hujan, retakan beton tersebut akan tertutup kembali setelah bakteri bacillus hidup lagi dan buang hajat.

Rhesa juga menambahkan bahwa untuk mendapatkan hasil semen hidup yang maksimal, ada takaran ideal antara jumlah semen dan mikroba bacillus. Yakni, setiap satu meter kubik semen idealnya dicampur dengan 15 kg bakteri bacillus.

Rhesa menegaskan, proses memperbaiki sendiri tersebut hanya berlaku di retakan-retakan dalam. Proses penimbunan kapur dari bakteri tidak akan sampai ke permukaan beton. Sebab, bakteri itu akan mati jika terpapar sinar matahari secara langsung.

Dalam penelitiannya, Rhesa sempat mengalkulasi berapa lama semen hidup memperbaiki diri sendiri. Untuk sebuah retakan berukuran 0,8 milimeter, misalnya, dibutuhkan waktu sekitar tiga pekan untuk menutup sendiri. Ketika retakan menyebar, masing-masing bisa memperbaiki sendiri karena di sekelilingnya ada sekumpulan bakteri. Sementara itu, untuk kembali ke kekuatan beton seperti semula, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Inovasi Rhesa cs memang belum sempurna dan masih di permukaan. Karyanya juga belum berwujud prototipe. Tetapi, inovasi itu sudah menarik perhatian pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bandung. Hipmi memberikan apresiasi atas lahirnya inovasi semen hidup dan menyebutnyaberpotensi untuk diproduksi secara masal. Hipmi bahkan berharap sebelum lulus kuliah Rhesa dan kawan-kawan bisa menjadi pengusaha semen hidup.

Terkait dengan harapannya kepada pihak-pihak terkait, khususnya pemerintah, dalam mengapresiasi karya-karya inovatif, Rhesa berharap pemerintah berkomitmen mengakomodasi inovasi-inovasi anak negeri yang berdaya guna tinggi. Baik di bidang infrastruktur, ketahanan energi, ketahanan pangan, maupun bidang lain. (farid)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL