Sumber: timesindonesia.co.id

Jakarta, Liputanislam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa fatwa resolusi jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 berhasil menggelorakan perjuangan bangsa melawan penjajah. Resolusi jihad pada akhirnya mengantarkan puncak perlawanan rakyat pada 10 November yang dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Hal itu disampaikan Kiai Said pada acara Konferensi Pers memperingati Hari Santri ke-4 di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat, pada Rabu (12/9). Peringatan Hari Santri Nasional diadakan setiap tahun pada 22 Oktober.

“Seandainya tidak ada fatwa KH Hasyim Asy’ari belum tentu semangat perlawanan, intifadhoh masyarakat Surabaya dan sekitarnya berkobar seperti yang terkenal itu (10 November),” katanya.

Menurut Kiai Said, peringatan hari pahlawan yang ditetapkan pada 10 November itu tidak bisa dilepaskan dari pengorbanan para santri dan Kiai. “Sepuluh November bisa menjadi hari nasional berkat darahnya para kiai dan santri. Maka tanggal 10 November dari hari pahlawan nasional, sebenarnya adalah hari pahlawan santri,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, ia sempat menjelaskan tentang makna santri. Menurutnya, santri bukan hanya orang yang pernah menimba ilmu di pesantren, melainkan juga orang yang mempunyai akhlak yang baik dan hormat kepada kiai. “Itu santri namanya,” katanya.

“Contohnya misalkan, mohon maaf saya jadikan contoh, Profesor Muhammad Nuh itu bukan keluaran pesantren, tapi beliau berkahlak baik dan hormat kepada kiai, beliau adalah santri,” tambah Kiai Said. (ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*