illustrasi/gomuda.com

illustrasi/gomuda.com

Bandung, LiputanIslam.com – Limbah koran yang selama ini kerap kali digunakan sebagai pembungkus cabai atau bawang di warung, kini justru di tangan Wahyudi (39) bisa menembus pasar Jerman. Limbah koran tersebut pasalnya sudah dibentuk oleh Wahyudi menjadi kerajinan replika beraneka rupa.

Wahyudi mampu membuat sebuah karya kerajinan replika dengan berbagai bentuk, diantaranya becak, perahu, mobil dan pesawat terbang. Wahyudi bercerita awalnya ia mengikuti sebuah pameran pada tahun 2014. Ditempat itulah ia bertemu dengan seorang pengunjung asal Jerman. Melalui orang itulah yang sampai saat ini membuka jalan bagi karya-karya Wahyudi hingga bisa di ekspor ke Jerman, seperti diberitakan kompas.com.

Wahyudi mampu membuat karya kerajinan dari koran bekas sehingga dibentuk menjadi berbagai replika. Misalnya seperti pesawat terbang yang dimulai dari ukuran 15 centimeter hingga ukuran paling besar 30 centimeter.

Wahyudi membandrol replika pesawat terbang tersebut antara Rp 50.000,- hingga Rp 1 juta yang sangat bergantung pada tingkat kesulitan pembuatannya. Wahyudi mengakui bahwa karya yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi adalah replika kapal layar. Ia membutuhkan setidaknya waktu tiga hari untuk menyelesaikan sebuah kapal layar dari kertas koran bekas.

Kesulitannya terutama terletak pada penyusunan benang-benang kapal yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi karena terbilang cukup rumit.

Usaha tersebut diakui Wahyudi awalnya justru ingin membantu temannya yang menjalankan bisnis yang sama. Ketika temannya berhenti, Wahyudi tetap menjalankan bisnisnya.

Uniknya justru pada proses awal produksi Wahyudi menggunakan bambu dan botol bekas sebagai bahan dasar pembuatan replika. Namun setelah beralih ke kertas koran bekas, respon pasar malah lebih positif.

“Saya kira masyarakat Indonesia bisa lebih bijak untuk mengelola limbah-limbah bekas, agar tidak mencemari lingkungan sekitar, dan ternyata bisa menjadi produk yang memiliki nilai seni dan bernilai tambah,” pungkas Wahyudi. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*