Sumber: nu.or.id

Kuningan, LiputanIslam.com– Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin menyatakan bahwa pengurus NU itu ibarat sopir, sedangkan pemiliknya adalah para ulama. Hal tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf pada Halaqah Alim Ulama se-Wilayah 3 Cirebon, Ciamis, dan Banjar di Pondok Pesantren Mursyidul Falah, Kuningan, Jawa Barat, seperti dilansir NU Online, pada Kamis (26/10).

“Para ulama diharapkan membantu pengurus untuk kebesaran NU, bukan hanya isman (besar namanya semata), tapi juga haqiqatan (memang sungguh-sungguh besar),” ujarnya.

Menurutnya, tugas utama ulama selain persoalan agama tafaqquh fiddin, juga tugas mas’uliyah ummatiyah yaitu penguatan akidah, juga pemberdayaan ekonomi umat. Kiai Ma’ruf juga menjelaskan bahwa akidah NU adalah ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyyah.

“NU itu ciri utamanya adalah fikrah, yaitu aswaja an-nahdliyyah. Kenapa harus ditambahkan an-nahdliyyah karena ada yang mengaku aswaja namun menolak akidah Asyariyah dan aswaja itu selain tawassuth (moderat) juga tathawwuriyah (dinamis), namun tetap bermanhaj (manhajiyah). NU bermadzhab qouli dan manhaji. Tidak tekstualis, juga tidak liberal tetapi manhajiyyan menurut madzahibul arba’ah,” terangnya.

Kiai Ma’ruf juga berharap jamaah dan pengurus NU agar terus menerus melakukan dinamisasi pemikiran (tathwirul fikrah an-nahdliyyah), dengan mencari solusi atau jalan keluar keagamaan (makharij al-fiqhiyyah), salah satunya dalam mencari solusi kebangsaan (makharij al-wathaniyyah).“Dengan demikian cara berfikir NU itu solutif atau makharijiyyah (selalu mencari jalan keluar),” katanya.

Selain itu, pemberdayaan ekonomi umat juga harus menjadi perhatian NU. “Perlu gagasan tentang arus baru ekonomi Indonesia yang lebih mengedapankan penguatan ekonomi umat yang merata dan berkeadilan,” ungkapnya.

Sementara, Wakil Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar mengingatkan kembali filosofi tiga simbol yang disampaikan Syaikhuna Kholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu QS Thoha ayat 17-23, tongkat, dan tasbih. “Para muassis menginginkan NU yang ‘sakti’ seperti tongkat Nabi Musa. Filosofi tongkat menunjukkan aspek kepemimpinan,” tuturnya.

Menurutnya, NU sebenarnya tidak alergi terhadap politik, namun tentu saja politik yang santun, bermoral, dan menjunjung kemaslahatan umat. Kemudian adapun simbol tasbih adalah sebagai fondasi ruhaniyah dan religiusitas dalam ber-NU. (Ar/NU Online).

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL