Adjeng Rury Angelica/(WS Hendro/Jawa Pos)

Adjeng Rury Angelica/(WS Hendro/Jawa Pos)

Surabaya, LiputanIslam.com – Puluhan lembar sertifikat, piagam, dan beberapa piala tersusun di sudut meja. Piagam dan piala itu berasal dari berbagai kompetisi. Kebanyakan kompetisi perencanaan usaha. Mayoritas bertulisan juara pertama, ada juga piala best of the best.

Prestasi di bidang bisnis tersebut dimulai dari keikutsertaannya di Akademi Wirausaha pada Januari 2014. Dalam lomba yang diadakan Dinas Sosial Kota Surabaya tersebut, Uyi mengalahkan ribuan peserta kategori SMA-SMK se-Surabaya.

Di kompetisi itu, Uyi diberi modal Rp 100 ribu untuk dikembangkan. Kemudian dia mempelajari kerangka, rencana, dan praktik bisnis secara otodidak. Kurang dari dua minggu, uang tersebut sudah beranak hingga Rp 2 juta. Semua itu terjadi karena makanan tradisional botok, lansir JAWAPOS.

Tidak sedikit teman yang mengejek karena masakan tersebut terkesan ndeso dan ketinggalan zaman. Namun, Uyi tidak peduli. Banyak hal yang dia pikirkan sebelum mengangkat menu itu. Uyi menjadi konseptor sekaligus koki.

Botok olahannya dibungkus daun pisang dengan rapi, dimasukkan ke dalam plastik bening, kemudian diberi label. Memberi kesan higienis. Setelah itu, dia menyandingkan botok dengan nasi kempel dan sambal genderuwo, masakan kreasinya.

Gadis berambut panjang tersebut memberi nama-nama unik pada botok olahannya berdasar isi. Misalnya, botok akapela berarti ati pake ampela, tengsin (tengah isi telor asin), cengkareng (ceker bakar kereweng), dan arema (ayam rempah). ’’Mulai anak-anak sampai orang tua suka,” jelas Uyi.

Sebagai campuran, dia menggunakan santan, bukan parutan kelapa. Botok pun terasa lembut. Tanpa MSG dan pengawet. ”Banyak guru saya yang suka. Teman-teman juga akhirnya membeli setelah nyobain, katanya enak. Bahkan, banyak orderan dari luar kota,’’ ujar siswa kelas XI Teknik Bangunan SMKN 5 tersebut.

Berhasil mengembangkan modal dengan cepat, Uyi akhirnya menjadi pemenang kompetisi itu. ’’Business plan menjual makanan botok itu paling berkesan dan bikin bangga. Sebab, bisnis ini masih berjalan sampai sekarang,’’ ujar Uyi.

Dia mengelola bisnis tersebut dengan dibantu sang ibu, Niken Mahendra. Omzetnya mencapai jutaan rupiah dalam sebulan. Setelah kompetisi itu, Uyi semakin aktif mengikuti berbagai lomba business plan. Beberapa yang dia menangkan, antara lain, Lomba Prestasi Junior Indonesia. Saat itu dia menyandang juara a head of campaign. Dia dinilai terbaik dalam mengampanyekan produknya berupa donat kentang. (jawapos/fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL