Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi anggota delegasi mengikuti KTT ASEAN - Amerika Serikat ke-2 Tahun 2014 di kota Nay Pyi Taw, Myanmar, Kamis (13/11)Jakarta, LiputanIslam.com— Hingga hari ini, Palestina merupakan satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) yang belum merdeka. Selama 60 tahun lebih, rakyat Palestina harus hidup menderita akibat pendudukan Israel. Tak heran jika dalam KAA yang diselenggarakan tahun ini, kemerdekaan Palestina menjadi salah satu fokus pembahasan.

Direktur Jenderal Asia Pasifik Afrika Kementerian Luar Negeri RI Yuri Thamrin mengatakan perundingan dukungan kemerdekaan Palestina di KAA berjalan lancar.

“Dukungan terhadap palestina itu kan besar. Jadi lebih mudah untuk menyepakati dokumen. Jadi dukungan lebih besar. Kita menyampaikan merasa bangga akan soliditas Palestina yang tetap teguh menghadapi berbagai cobaan,” ujar Yuri, seperti dilansir Liputan6.

Dengan adanya dokumen dukungan Palestina ini, Yuri mengharapkan langkah Palestina menjadi negara berdaulat penuh semakin mulus. Jika hal itu berjalan sesuai rencana, kemerdekaan keanggotaan Palestina di PBB pun akan dapat terwujud.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyadh al Maliki, berhadap dukungan dari KAA ini akan mempermudah jalan bagi Palestina ke depannya. “Kami memiliki dukungan yang kuat dari delegasi Konferensi Asia Afrika. Faktanya, Pemerintah Indonesia dan peserta Konferensi Asia Afrika sudah membuat deklarasi yang salah satunya mendukung kemerdekaan Palestina. Kami berharap Palestina menjadi fokus di acara ini. Dengan situasi ini bisa memberikan dukungan mempermudah menuju jalan kemerdekaan kami,” katanya.

“Tidak. Saya tidak memikirkan ada negara peserta KAA yang menentang kemerdekaan kami. Kami pantas mendapat dukungan kemerdekaan itu sangat normal. Kami tidak mengharapkan apa-apa tapi cukup dukungan untuk kemerdekaan kami. Jadi, saya tidak melihat ada negara yang menghalangi negara kami untuk merdeka,” ujarnya lagi.

“Kita di sini telah mendengar dukungan deklarasi kemerdekaan selama beberapa tahun yang lalu. Saya masih 11 tahun ketika Israel menyerang kampung saya, sekarang saya sudah berusia 60 tahun. Pendudukan adalah aksi teroisme yang sangat buruk. Kita harus fight melawan hal ini,” lanjutnya.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah mengutarakan keinginan untuk mendirikan Konsul Kehormatan Indonesia di Kota Ramallah, Palestina. Menurutnya, langkah ini merupakan wujud konkret dukungan Indonesia terhadap Palestina.

Mendengar hal itu, Perdana Menteri (PM) Palestina Rami Hamdalah pun menyambut baik. “Saya sangat menghargai hubungan telah terjalin lama dengan Indonesia sejak era Presiden Soekarno. Kami sangat menghargai permintaan Indonesia untuk membangun konsul kehormatan di negara kami,” ujar PM Hamdalah dalam konferensi pers di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa, 21 April 2015. Ia menambahkan, pembangunan konsul kehormatan adalah sebuah langkah maju dalam hubungan Indonesia-Palestina. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL