Foto: Kompas

Foto: Kompas

Yogyakarta, LiputanIslam.com — Semakin hari, traveling semakin diminati oleh masyarakat. Menjamurnya komunitas backpacker dan ramainya travel blogger, merupakan salah satu indikasi. Seakan berusaha mengimbangi tuntutan zaman, baik pemerintah ataupun elemen masyarakat berupaya untuk turut andil dalam mengembangkan potensi pariwisata di daerahnya sehingga semakin menarik minat wisatawan.

Di Batam, sedang dikembangkan studio produksi film agar bisa dinikmati oleh publik. Di Jakarta, Pulau Seribu tengah dipersiapkan menjadi tujuan wisata kelas dunia. Hal serupa juga dilakukan oleh warga lereng Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, mereka mulai melakukan sejumlah inovasi untuk menambah daya tarik obyek wisata unggulan “Lava Tour” Merapi.

“Salah satu inovasi yang sedang kami persiapkan adalah membuka beberapa jalur trekking baru di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM),” kata Koordinator Wisata “Lava Tour” Merapi, Anto Kubis, Minggu, 8 Februari 2015 seperti dilansir Kompas.

Menurut dia, inovasi-inovasi alternatif wisata lereng Merapi ini sangat dibutuhkan, agar bisa lebih memikat pengunjung karena daya tarik utamanya, yaitu sisa-sisa erupsi Gunung Merapi perlahan sudah pulih dan banyak ditumbuhi pohon-pohon lagi.

“Kami memang sudah memiliki rencana membuka jalur trekking yang baru. Saat ini masih belum secara resmi dibuka dan ditawarkan dalam paket wisata yang dapat dinikmati pengunjung. Sementara ini kami simpan dahulu, jika benar-benar sudah siap baru akan dimasukkan ke dalam layanan wisata kami,” katanya.

Anto mengatakan, persiapan jalur trekking tersebut tidak hanya memastikan apakah jalur tersebut memang aman atau tidak untuk para wisatawan. Namun juga membutuhkan izin dari pengelola resmi hutan, yaitu TNGM. Ia mengatakan, jalur treking yang baru tersebut tidak terlalu mengedepankan wisata sisa erupsi Gunung Merapi, tetapi lebih kepada pemandangan alam, seperti tempat untuk menikmati matahari terbenam (sunset).

“Jadi jalan kaki dulu, tidak bisa masuk kendaraan. Di tempat itu selain bisa melihat lebih jelas Gunung Merapi juga akan lebih bagus untuk menikmati sunset,” katanya.

Selama ini, jalur treking di wisata “Lava Tour” memang sudah ada. Seperti, yang ada di Sungai Kuning yang salah satu unggulannya menikmati pemandangan bekas erupsi, yaitu tebing Watu Kemloso. Namun, sejauh ini pengunjung masih lebih tertarik pada layanan persewaan jeep atau motor trail.

Berbagai inovasi baru seperti ini sangat dibutuhkan untuk mengembangkan wisata “Lava Tour” Merapi agar kembali lebih bergairah. Karena pengunjung yang datang ke tempat ini intensitasnya semakin berkurang.

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNGM, Asep Nia Kurnia mengatakan, pihaknya mengapresiasi mengenai upaya-upaya dari warga lereng Merapi tersebut untuk meningkatkan perekonomian mereka.

“Kami siap untuk memfasilitasinya, yaitu membuka jalur trekking baru. Untuk meningkatkan fungsi hutan bagi wisatawan, TNGM sudah semestinya bisa memfasilitasinya,” katanya.

Menurut Asep, yang perlu diperhatikan adalah jalur trekking baru tersebut tidak melanggar aturan zonasi yang telah ada. “Di hutan TNGM terbagi dalam tiga zonasi, yaitu zona inti untuk ekosistem, seperti tumbuhan atau satwa yang ada. Kemudian, zona rimba yang digunakan untuk hal yang sama,” katanya.

Selain itu, ada zona pemanfaatan. Zona inilah yang boleh dimanfaatkan oleh warga setempat, salah satunya seperti untuk obyek wisata. “Usulan warga itu bagus. Ada titik-titik tertentu di hutan memang yang tidak boleh dilakukan pengembangan wisata. Yang boleh di zona pemanfaatan,” tambah Asep. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL