Sonja-dan-Santi-Sungkono4-700x357jadiberitacom

LiputanIslam.com – Penampilan pianis kembar asal Indonesia, Sonja dan Shanti Sungkono mampu memukau penonton musik klasik di Berlin, Jerman. Keduanya memiliki wajah Jawa yang berpakaian asli khas Indonesia, Kebaya.

Keduanya selalu dengan bangga memperkenalkan diri berasal dari Indonesia. Mereka berdua telah tinggal di Jerman sejak tahun 1991, tepatnya bermukim di Berlin seperti dilansir dari jadiberita.com (6/1).

Selain penampilan mereka yang unik karena merupakan adik kakak kembar, juga membawa nama Indonesia. Tak kalah kepiawaian mereka berdua diatas panggung sangat dikagumi penggemar musik klasik tidak hanya di Jerman namun juga di beberapa kota besar mancanegara.

Penampilan mereka berdua banyak dipuji oleh kritikus musik klasik Eropa. Di Jerman, bahkan mereka telah memiliki tempat di hati para penikmat musik klasik.

Saudara kembar ini berangkat ke Jerman pada tahun 1991 yang awalnya ingin menjenguk kakaknya dan berniat belajar bahasa Jerman. Namun nyatanya nasib menentukan lain, mereka berdua kemudian masuk jurusan musik di Hochschule der Kunste, Berlin.

Dibawah bimbingan Profesor Sorin Enachescu, bakat mereka dalam bermain piano kian terasah. Sonja-Shanti kian yakin atas langkah mereka setelah penampilan duet piano di sejumlah kota besar Eropa seperti Berlin, Hamburg, Warsawa, Venesia, dan Paris, telah mencatatkan sukses besar.

Sonja-Shanti sering kali membawakan karya-karya komposer musik klasik dunia, seperti Mozart, Bach, Tchaikovsky, Schubert, dan Debussy. Kadang duet ini juga mendetingkan gubahan Colin McPhee yang terpesona oleh keindahan Pulau Dewata: Balinese Ceremonial Music. Dentingan gamelan khas Bali terdengar amat merdu di atas tuts-tuts piano.

Meski kepiawaian duet pianis ini telah berhasil melambungkan Jerman di belantika musik klasik internasional, mereka berkeyakinan akan tetap mempertahankan status kewarganegaraannya. “Kami cinta Indonesia, buat apa melepas kewarganegaraan?” kata mereka. Mereka belum tahu sampai kapan akan tinggal di Jerman. Apalagi anak-anak mereka lahir di Jerman. Tapi keinginan pulang ke Indonesia tak pernah padam. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*