Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2014, KH Sahal Mahfudh berpesan kepada warga NU khususnya para pengurus agar tidak terjebak pada politik praktis. Kiai Sahal menyerukan agar NU melaksanakan politik tingkat tinggi, bukan politik praktis atau dukung-mendukung. Hal itu ia sampaikan saat wawancara di Jurnal Taswirul Afkar Edisi Nomor 25 Tahun 2008 seperti dilansir NU Online Jakarta, pada Senin (6/8).

Menurutnya, praktik politik tingkat tinggi itu diantara adalah melakukan penyadaran hak-hak rakyat, melindungi mereka dari kesewenang-wenangan pihak manapun, dan memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan. NU juga harus terus mendorong pengembangan etika berpolitik untuk mewujudkan kehidupan politik yang santun, damai, dan tidak menghalalkan beragam cara.

Kiai Sahal menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebenarnya notabenenya merupakan sebuah organisasi Islam. Namun, NU berpolitik praktis atau tidak itu tergantung pada para pengurusnya. Jika para pengurus tidak bisa lepas dari praktik-praktik politik praktis, maka mereka akan selalu mempolitisasi NU. “Apabila pengurus NU-nya telah melepaskan politik praktis, tidak akan ada upaya mempolitisir NU,” katanya.

Pada kesempatan itu, Kiai Sahal juga mengingatkan dunia pesantren. Ia mengatakan, kunci agar sebuah pesantren selamat dari politik praktis adalah pengasuhnya. Jika pengasuh pesantren cuek dan tidak memiliki idealisme, maka pesantrennya akan terseret dalam gelombang politik praktis.

“Tapi kalau pengasuhnya masih punya pengaruh dan punya idealisme, masih memberikan arahan-arahan pada santrinya, itu bisa terselamatkan. Jadi itu tergantung pada pengasuhnya,” ucapnya. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*