Sumber: nu.or.id

Tangerang, LiputanIslam.com– Direktur Pusat Studi Pesantren, Ahmad Ubaidillah mengungkapkan keprihatinannya atas masih kurangnya perhatian pada sastra di Indonesia. Menurutnya, sastra hanyalah narasi kecil yang belum dianggap penting. Padahal, anak kecil di Barat (Eropa) sedini mungkin telah diperkenalkan dengan sastra. Hal itu ia sampaikan saat mengisi kajian dengan tema Sastra dan Keberpihakan Sosial Kaum Santri di Islam Nusantara Center, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Sabtu (10/2).

Atas hal itulah, ia menilai kaum santri sebagai bagian dari masyarakat yang punya kedekatan lebih dengan dunia sastra untuk mengembangkan sastra sebagai narasi besar di Indonesia. “Sebagai kaum santri, harus memulai membangun politik literasi itu untuk menempatkan sastra tidak lagi sebagai narasi kecil yang dianggap tidak punya peran apa-apa,” ucapnya.

Ahmad Ubaidillah juga mengingatkan bahwa sastra harus menampilkan realitas sosial. Menurutnya, sastra harus mampu membangun paradigma, membangun kesadaran masyarakat. “Untuk menggugah kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Sementara Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawie mengatakan bahwa ada dua kesadaran yang harus digemakan. “Kesadaran kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan,” terangnya.

Sastra yang berasal dari pena warga pesantren sangat berpengaruh dalam membentuk kesadaran masyarakat. Hal itu terbukti dengan terpilihnya KH Ahmad Musthofa Bisri sebagai penerima penghargaan Yap Thiam Hien. Juga terbukti, syiir Syubbanul Wathan yang angkat KH Abdul Wahab Hasbullah juga berhasil menggerakkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dari penjajahan. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*