Sumber: bu.academia.edu

Jakarta, LiputanIslam.com– Pengamat terorisme sekaligus Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajang Jahroni menilai rentetan peristiwa kekerasan yang menimpa para pemuka agama belakangan ini bukanlah sebuah gerakan sporadis. Artinya, bukan gerakan yang tiba-tiba. Menurutnya, kekerasan itu merupakan upaya untuk memprovokasi masyarakat menjelang pesta demokrasi yang bakal digelar 27 Juni mendatang dan Pilpres tahun depan.

“Ada gerakan terstruktur dan masif untuk kepentingan politik. Beberapa pihak menganggap isu SARA masih bisa digunakan untuk memperkeruh suasana,” ucapnya di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Selasa (13/2).

Menurut Jajang, peristiwa kekerasan tersebut dapat menimbulkan saling curiga dan menganggu keharmonisan antar kelompok. “Ada skenario yang mungkin dibuat oleh kelompok yang berbeda, tetapi dengan bahasa (gerakan) yang sama. Psikologi massa dibuat sedemikian rupa,” ujarnya.

Agar tidak terjadi perpecahan, ia mengimbau masyarakat untuk kritis dan tabayun dalam menanggapi berita yang beredar. Hal tersebut penting mengingat pemberitaan dibuat sedemikian rupa untuk menggiring opini publik. Opini publik adalah, pertama, pelaku penyerangan terhadap kiai diindikasikan sebagai orang gila. Kedua, pelaku penyerangan gereja dianggap teroris.

Opini demikian akan menimbulkan ketegangan dan membangkitkan kemarahan masyarakat dengan menuduh pemerintah tidak berpihak kepada Muslim karena jika Muslim yang diserang pelakunya dianggap orang gila, sedangkan jika agama lain yang diserang pelakunya disebut sebagai teroris.

Oleh karena itu, Jajang juga meminta agar ormas Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah terus aktif bersuara. “Jangan dibiarkan (narasi keislaman) dikuasai dan dikontrol mereka yang intoleran,” katanya.

Terakhir, ia juga mengapresiasi pemerintah yang sudah bertindak cepat menangkap pelaku. Tetapi dalam hal ini, pemerintah juga harus tegas guna mencegah timbulnya tragedi berikutnya. Jika tidak, kelompok intoleran tersebut akan semakin besar dan meresahkan. (Ar/NU Online).

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL