Sumber: infobiografi.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com– Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta, Ahmad Suaedy menyatakan bahwa konsep pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang kewarganegaraan kultural yang berpijak pada pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak kolektif warga sebagai manifestasi dari konsep Bhineka Tunggal Ika, dapat dijadikan sebagai model resolusi dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi sekarang ini.

Hal itu disampaikan Ahmad Suaedy dalam sidang disertasinya yang berjudul “Visi Kewarganegaraan Kultural Abdurrahman Wahid Dalam penyelesaian Konflik Aceh dan Papua, 1999-2001” di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Kamis (17/5).

Menurut Suaedy, Cara pandang dan aksi Gus Dur yang melampuai kerangka pikir formalistik dan procedural merupakan refleksi dari cara pandang Islam post-tradisional yang berorientasi pada pembelaan hak-hak kaum tertindas yang memperjuangkan keadilan dari rejim yang sebelumnya memasung hak-hak dasar mereka.

Kapasitas Gus Dur sebagai tokoh multidimensi, lanjut dia, penting dijadikan referensi pemikiran politik kewargaan yang genuine dan berwawasan nusantara. Terlebih lagi perhatian Gus Dur tidak hanya berhenti disitu. Ia dikenal sebagai pemikir yang melakukan banyak terobosan ide-ide keislaman dan sosial politik untuk demokratisasi serta penegakan Hak Asasi Manusia.

Sementara Direktur pascasarana UNUSIA Jakarta, Mastuki HS yang ikut hadir dalam sidang tersebut mengatakan bahwa pemikiran Gus Dur memang tidak pernah kering untuk digali. Sebab perjalanan hidup Gus Dur ditempa melalui berbagai macam pengalaman dan jaringan yang membentuk basis intelektualnya dari seorang guru, cendekiawan, aktivis, pemimpin ormas dan puncaknya sebagai presiden RI.

Pada kesempatan itu, Ahmad Suaedy berhasil mempertahankan disertasinya dengan predikat Sangat Memuaskan. Para penguji terdiri dari Ketua Sidang Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Yudian Wahyudi  PhD didampingi promotor Prof H Dudung Abdurrahman, penguji Dr Moch Nur Ichwan, Prof Noorhaidi, Prof Purwo Santoso dan Prof Abdul Munir Mulkan. (ar/NU Online).

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*