Sumber: Liputan6.com

Jakarta, LiputanIslam.com– Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Pituduh meminta Menteri Agama untuk turun tangan menyelesaikan persoalan adanya politisasi agama di masjid yang banyak meresahkan masyarakat belakangan ini. Hal itu disampaikan Imam di Jakarta, seperti dilansir oleh Liputan6.com pada sabtu (1/4).

“Khususnya Menteri Agama, Kementerian Agama tidak hadir di sini. Menteri Agamanya harus hadir untuk meluruskan hal ini. Selama ini mereka membiarkan, memberikan ruang, harusnya Menteri Agama menginstruksikan kepada seluruh jajaran di bawahnya untuk tidak mempolitisir masjid,” ujarnya.

Menurut Imam, tindakan politisasi masjid itu harus dihentikan. Apalagi, sampai ada ajakan untuk tidak mensalatkan jenazah sesama muslim, itu sudah sangat keterlaluan dan tidak sesuai dengan kaidah Islam yang sesungguhnya. “Jadi kalau ada yang sampai jadikan masjid eksklusif dan dipolitisasi, apalagi tidak mensalati umat yang memilih paslon (pasangan calon kepala daerah) berbeda, wah itu salah besar itu, bertentangan dengan kaidah Islam yang sesungguhnya,” ucapnya.

Imam menyampaikan bahwa aksi politisasi masjid sebagai akibat dari berkembangnya anti pluralisme, anti pemerintah, anti paslon tertentu, dan bahkan sebagai upaya untuk menjadikan situasi di Indonesia seperti negara-negara Arab yang dilanda konflik. Maka dari itu, Imam mengajak semua pihak termasuk pemerintah, untuk mewaspadai munculnya kelompok-kelompok bawah tanah yang sudah lama bergerak, yang sengaja memanfaatkan momen pilkada untuk melancarkan aksi mereka.

Ia mengingatkan, agar pemerintah benar-benar serius dalam menangani persoalan ini. Karena jika dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan masyarakat mengambil tindakkannya sendiri. “Jika pemerintah tidak segera bertindak, khususnya Menteri Agama, nanti masyarakat bisa mengambil tindakan sendiri. Khawatirnya, nanti akan muncul konflik horizontal, nanti yang rugi kita sendiri,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Imam juga menyampaikan bahwa masjid merupakan rumah Tuhan untuk semua orang. Masjid  tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi ia juga merupakan simbol akulturasi budaya. Salah satunya ia mencontohkan masjid Kudus. “Karena masjid adalah rumah Tuhan untuk semua orang, semua golongan. Masjid simbolnya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai simbol akulturasi kebudayaan. Lihat menara Masjid Kudus, akulturasi budaya Hindu, bahkan tempat wudunya itu ada patung-patung kecil,” ungkapnya. (Ar/Liputan6)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL