Sumber: nu.or.id

Makassar, LiputanIslam.com– Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) meminta Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk selalu mengedepankan nilai-nilai peradaban. Hal itu disampaikan Gus Yahya di  aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/3).

Menurutnya, mensyiarkan nilai-nilai peradaban itu sangat penting, baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun dalam kehidupan antar umat beragama. Dengan mengedepankan nilai-nilai agama, kita berkesempatan untuk terus memperbaiki kualitas diri hingga mendekatkan kita pada Allah Swt. “Dengan adanya peradaban, kita punya kesempatan memperbaiki kualitas hingga mendekatkan diri pada Tuhan,” ujarnya.

Gus Yahya mengingatkan, tanpa adanya peradaban, maka kerusakan akan selalu terjadi. Ia mencontohkan, kawasan Timur Tengah saat ini penuh dengan pertempuran yang menyebabkan banyak kerusakan, padahal masing-masing dari mereka disana mengatasnamakan Islam. “Tanpa ada peradaban, kerusakan akan selalu terjadi. Perhatikan. Semua kelompok bertempur di Timur Tengah mengatasnamakan Islam. Kenapa demikian?,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa dampak perang Syiria. Dalam kurun waktu lima tahun, 300 ribu orang mati. 80 persen atau sebanyak 240 ribu yang mati ialah orang-orang yang tidak ikut perang, terkena peluru tersasar, hingga pecahan bom. Lebih dari dua per tiganya anak-anak dan perempuan.

Gus Yahya juga mengingatkan, agar kita mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di Syiria dan kawasan Timur Tengah lainnya. Ia juga mengajak umat Islam Indonesia untuk lebih mengedepankan nilai-nilai peradaban, Islam rahmatan lil alamin, Islam yang mengayomi seluruh umat manusia.

“Sebagai orang tua. Bagaimana jika anak kita sakit panas? Pasti sahabat-sahabat yang sudah punya anak akan bingung. Para mujahidin itu ngerti tidak sih? Punya anak tidak sih? Ibu-ibu ketakutan, berlarian menggendong anaknya akibat kerusakan (perang) mereka ciptakan? Maka saya katakan, peradaban itu penting dan berharga,” kata dia.

Ia mengungkapan, contoh nyata dari berharganya peradaban ialah corak Islam Nusantara. Karena Islam datang untuk menyempurnakan dan tidak untuk merusak, maka para wali dan dzuriyah nabi penyebar Islam di Indonesia tidak merusak yang ada, tapi memperbaiki. Menurutnya, Itulah satu alasan kenapa NU teguh merawat tradisi dan menghormati kearifan lokal sebagai bagian dari peradaban dan meminta warganya untuk tidak berhenti mensyiarkannya. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL