Hiromi dan Rofit/detikcom

Hiromi dan Rofit/detikcom

LiputanIslam.com – Tak banyak anak muda Indonesia yang menekuni musik tradisional seperti Gamelan. Beberapa pemainnya kini sudah termakan usia. Namun ternyata dari Gamelan inilah bisa memadukan dua hati dari negara yang berbeda. Mereka adalah Rofit Ibrahim (35) dari Sleman, Yogyakarta dan Hiromi Sasaki (34) dari Jepang.

Keduanya kini melestarikan seni musik tradisional asal Indonesia Gamelan di Negeri Sakura. Rofit dan Hiromi akhirnya menikah dan hingga kini telah dikarunia dua anak. Kecintaan mereka terhadap musik tradisional Gamelan patut diacungi jempol. Mereka bahkan bukan hanya beraksi dari satu panggung ke panggung lainnya. Melainkan juga mengubah lantai dua rumah milik mertuanya di Ibaraki, Osaka sebagai studio untuk mengenalkan Gamelan kepada orang-orang Jepang lainnya.

Rofit dan Hiromi bertemu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2005 silam. Mereka akhirnya pindah untuk membangun rumah tangga di kota kelahiran Hiromi. Hidup dan mati mereka sepertinya sudah di dedikasikan untuk mengembangkan Gamelan di Jepang.

Rofit menceritakan kepada detik.com, bahwa setiap ada perayaan di KJRI, merekalah yang kerap diundang untuk tampil. Setiap melakukan pentas pun selalu mendapatkan dukungan dari KJRI. Terkadang juga dibantu secara finansial tutur Rofit.

Secara umum banyak juga penduduk Jepang yang menyukai Gamelan dan wayang. Maka kedua seni tradisional asal Indonesia ini kerap kali diundang di berbagai acara sekolah. Rofit mengaku panggilan untuk pentas lebih banyak datang pada musim panas. Dalam satu bulan bisa mencapai 10 sampai dengan 15 kali panggilan manggung.

Melihat animo yang lumayan, Rofit pun membuka kelompok Gamelan yang dinamakan Hana Joss. Penamaannya pun sangat unik karena dipadukan dari dua kata yang berbeda bahasa. Hana adalah bahasa Jepang yang berarti bunga, sedangkan joss adalah bahasa Jawa yang berarti fit atau bugar. Jadi jika digabungkan menjadi bunga yang bugar atau bunga yang fit.

Secara keseluruhan anggota Hana Joss ada 20 orang. Namun untuk sekali manggung akan sangat bergantung pada permintaan panitia acara. Terkadang bisa tampil full team atau bahkan hanya tiga orang saja. Dan kesemuanya adalah orang-orang Jepang yang mencintai Gamelan.

Karena selalu diundang di acara sekolah, Rofit mengubah cerita wayang dengan cerita rakyat dari Jepang misalnya cerita momotaro. Lagu-lagunya pun diadaptasi dari lagu-lagu yang sudah akrab dengan telinga orang-orang Jepang namun dibawakan dengan Gamelan Jawa. Dengan cara demikian ternyata lebih banyak orang Jepang yang menyukai Gamelan.

Rofit berharap agar di masa mendatang orang-orang Jepang bisa menyukai seni musik tradisional Gamelan seperti halnya Hiromi, istrinya sendiri yang jauh-jauh dari Jepang untuk belajar Gamelan ke Yogyakarta meskipun hal tersebut merupakan sebuah ketidaksengajaan karena awalnya Hiromi ingin belajar Gamelan Bali bukan Gamelan Jawa. Namun karena kadung jatuh cinta pada seni musik tradisional Indonesia, akhirnya kini Hiromi pun melakoninya sampai bisa berbahasa Jawa dengan medok. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL