Ketua-Umum-Gerakan-Pemuda-Ansor-Yaqut-Cholil-Coumas-2-660x330Semarang, LiputanIslam.com — Seminggu belakangan ini ramai membincang tentang ormas yang hendak mendirikan sistem khilafah Islamiyah (kepemimpinan/negara Islam). Di beberapa tempat, ormas Islam pengusung khilafah itu membentangkan ajakan untuk mendirikan dan mendukung sistem khilafah Islamiyah.

Masifnya ajakan untuk mendirikan negara Islam, menyita perhatian Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang selama ini getol membela keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ujungnya, massa Ansor di Jember terlibat bentrok dengan barigade polisi karena mendesak kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ditengarai hendak melakukan kampanye mendirikan negara Islam di Indonesia.

Untuk lebih jelas mengenai sikap GP Ansor terhadap ormas (bukan hanya HTI) yang berkampanye atau mengajak mendirikan negara Islam di Indonesia, berikut wawancara Ceprudin dari nujateng.com bersama Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Coumas, yang akrab disapa Gus Tutut di sela acara “Kemah Bakti Kebangsaan dan Apel Kesetiaan NKRI” yang digelar di halaman Makodam IV Diponegoro Semarang, Kamis (28-30/4).

Ceprudin: Gus, apa sikapAnda selaku Ketua Umum GP Ansor dalam menyikapi maraknya spanduk ajakan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah?

Gus Tutut: Saya minta kepada Banser ini, pertama untuk berkoodinasi dengan aparat keamanan (Polisi dan TNI), kedua lepas saja spanduk-spanduk itu, sebagai wujud pertanggungjawaban Banser kepada Negara Republik Indonesia, itu sikap saya.

Ceprudin: Menurut Gus Tutut, apakah tindakan mengajak atau kampanye untuk mendirikan Khilafah Islamiyah itu termasuk bentuk pembangkangan atau makar terhadap negara Pancasila ini?

Gus Tutut: Saya kira, kalau makar dalam definisi undang-undang ya belum, tapi dalam definisi kita (Ansor), dalam ajakan membentuk negara, selain NKRI di Indonesia, bagi kami ini sudah makar. Khilafah Islamiyah itu mengajak untuk mendirikan negara Islam.

Ceprudin: Apakah ada data, dimana saja penyebaran spanduk yang mengajak untuk mendirikan khilafah Islamiyah?

Gus Tutut: Saya tidak menemukan data persis, tapi saya menghawatirkan, terus terang, karena sebagaimana yang kita temukan awal di Kabupaten Rembang itu, ditemukan di kecamatan yang namanya Pamotan. Pamotan itu basis NU, hampir semua warga Pamotan yang Muslim itu NU.

Nah, di basis NU saja, mereka berani memasang spanduk ajakan untuk mendirikan khilafah Islamiyah. Bagaimana di tempat lain. Padahal NU sikapnya sudah jelas, Pancasila itu final, UUD final, NKRI harga mati. Kalau ada kelompok lain (yang mengajak mendirikan khilafah di basis orang NU), sama saja dengan nantang itu.

Selain di Rembang, ditemukan juga di Kediri, Tulungagung, Jatim. Di Jepara ada, di Pati Jawa Tengah ada, hampir semua tempat mereka kibarkan spanduk itu. Semua harus kita waspadai saya kira. Tidak ada yang paling, semua harus diwaspadai. Gerakan mereka ini masif. Jadi gerakan kita juga harus masif pula mengantisipasinya. Maka saya perintahkan kepada Banser untuk copot spanduknya.

Ceprudin: Menurut Gus Tutut sejatinya siapa mereka ini yang berani mengibarkan spanduk ajakan untuk mendirikan khilafah Islamiyah itu?

Gus Tutut: Saya kira sudah jelas kan, mereka itu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI itu kelompok garis keras, mereka itu sayap politik dari kelompok-kelompok Islam ”garis keras” itu. (jika) suatu saat mereka menjadi partai, saya kira akan merebut kekuasaan (dan jadilah negara Islam). Kita harus menjaga masyarakat supaya tidak terpengaruh.

Ceprudin: Lalu menurut Gus Tutut, seberapa jauh pengaruh media social dan online dalam kampanye khilafah Islamiyah?

Gus Tutut: Media online itu meskipun remeh-temeh bagi kami, tapi apa boleh buat, semua isu berkembang di sana (di media online). Semua isu itu sekarang berkembang di sana, oleh karena itu kita sudah perintahkan kepada teman-teman Ansor, Banser seluruh tingkatan untuk mereka ikut juga dalam “menyerbu” media sosial. Jangan hanya bertarung di dunia nyata.

Di dunia media sosialpun, mereka harus bertarung untuk terus mengkampanyekan NKRI. Dan Ansor itu sudah punya yang namanya Ansor Cyiber Armi (ACA). Kita punya itu yang kita siapkan memang untuk terus menggempur kampanye-kampanye mereka, kelompok radikal di media sosial.

Ceprudin: Gus untuk pasukan Banser sendiri di Indonesia jumlahnya berapa?

Gus Tutut: Kalau anggota Banser sendiri sekarang, dari Sabang sampai Merauke, kita punya 1,7 juta pasukan. Kita punya pasukan khusus yang namanya Densus 99. Pasukan Densus 99 ini mereka yang memang kita tugaskan khusus untuk terus memantau gerakan-gerakan Islam radikal dan merumuskan cara-cara untuk mengantisipasi dan melawan mereka.

Ceprudin: Jika yang dimaksud ormas HTI yang mengampanyekan khilafah Islamiyah, belakangan di beberapa daerah mereka hendak melakukan kegiatan, lalu apa tanggapan Anda?

Gus Tutut: Saya kira, mereka sengaja memancing kita, misalnya, kelompok HTI ini mereka bikin, namanya Muktamar Tokoh Umat (MTU) yang diselenggarakan di provinsi-provinsi. Disetiap provinsi mereka selenggarakan dan hari minggu besok itu mereka selenggarakan di beberapa derah. Kami akan koordinasi dengan aparat setempat. (ba/Nujateng.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL