Sumber: nu.or.id

Bogor, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyampaikan makna dari kota Madinah. Menurutnya, Madinah berarti kota atau negara yang maju secara akhlak dan moral, sekaligus maju dalam ilmu pengetahuan. Hal itu disampaikan Kiai Said pada acara Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dengan tema “Islam, Ekonomi, dan Kebangsaan” di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/1).

“Kalau ada negara yang maju di bidang akhlak dan moral, namanya ats-tsaqofah. Kalau ada negara yang maju di bidang ilmu pengetahuan, namanya al-hadoroh. Kalau ada negara yang kedua-duanya maju, namanya tamaddun. Maka, Nabi mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah,” ungkapnya.

Kiai Said menjelaskan bahwa Nabi Muhammad memperlakukan penduduk Madinah sama. Tidak memandang latar belakang. Pakemnya adalah keadilan, kebersamaan, dan kebijaksanaan. Di kota Madinah itulah Nabi berhasil memajukan umat dan membangun peradaban.

Pada suatu ketika, lanjut dia, Nabi Muhammad melihat ada umat Islam memperlakukan orang Yahudi secara kasar. “Beliau marah itu. Akhirnya beliau menyerukan; barangsiapa yang membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya, barangsiapa berhadapan dengan saya, tidak akan masuk surga,” ucapnya menceritakan.

Di lain waktu, ada perempuan yang kedapatan sedang mencuri. Maling. Ternyata, setelah diselidiki, ia adalah putri dari seorang tokoh besar. Namun, Nabi Muhammad sendirilah yang akan menghukum maling tersebut. “Jadi, bukan mentang-mentang anak tokoh besar, kemudian bebas dari hukuman. Tidak. Di mata Nabi Muhammad semua sama. Tidak ada bedanya,” jelasnya.

Oleh karenanya, pada kesempatan itu Kiai Said mengajak masyarakat Indonesia untuk terus meningkatkan saling menghormati dan saling menjaga antar sesama anak bangsa. “Musuh kita ini teroris, bandar narkoba, dan bandar LGBT,” tegasnya. (Ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*