logo-NUJember, LiputanIslam.com — Sebagai salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indoensia, Nahdlatul Ulama (NU) menunjukkan komitmennya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan turut membendung radikalisme yang belakangan ini menjadi momok menakutkan di tanah air.

Bagaimana tidak, ratusan warga Indonesia telah bergabung dengan kelompok teroris transnasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/ISIL/IS), dan angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah. Sementara itu, aparat keamanan juga berhasil meringkus beberapa oknum terduga teroris di berbagai kota. Keberadaan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) juga sangat meresahkan masyarakat, dan baru-baru ini, muncul sebuah video ancaman dari ISIS yang menyatakan akan menyerang Lapas Nusakambangan untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir.

Mengapa ummat Islam, mudah terprovokasi ajakan ISIS? NU, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Sebagaimana dilansir NU Online, pemahanam terhadap ajaran agama secara tekstual merupakan salah satu penyebab tumbuhnya gerakan radikal seperti ISIS. Misalnya beberapa hadits dan ayat al-Qur’an yang terkait dengan perintah jihad dipahami secara tekstual akan menumbuhkan gerakan semacam itu.

Pemahaman tekstual ini, lalu bertemu dengan orang yang pengetahuan agamanya dangkal, maka akan  langsung menerima tanpa “diolah” dulu. “Celakanya, ayat-ayat atau hadits semacam itu, terus didengungkan oleh agen kelompok radikal dan ditelan begitu saja oleh orang-orang,” ucap Wakil Ketua PCNU Jember, H. Misbahus Salam saat menjadi narasumber dalam acara “Dialog Membendung Radikalisme di Indonesia” di aula kantor NU Jember, Ahad, 12 April 2015.

H. Misbah menambahkan, biasanya yang menjadi target rekruitmen agen kelompok radikal adalah orang yang dari sisi pendidikan tergolong kelas menengah  ke atas, namun pengatahuan agamanya masih tanggung. Biasanya, lanjut dia, mereka yang bergabung itu langsung menjadi militan karena pengaruh doktrin itu sangat kuat. Salah satu yang didoktrinkan adalah kewajiban berjihad di jalan Allah dan hadiah surga bagi mereka yang mati dalam berjihad. “Kalau doktrin itu sudah begitu mantap, siapa yang bisa menolak. Karena mereka berpikir, toh hadiahnya surga,” jelas dia.

Narasumber lain dari Mapolres Jember diwakili Satuan Intelkam Ali Setiyono. Menurutnya, sampai detik  ini,  di Jember belum ada gerakan ISIS. Kendati demikian, Ali menegaskan bahwa gerakan radikal selain ISIS sudah bermunculan di wilayahnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL