senimanJakarta, LiputanIslam.com– Sejak kecil, Nicholas Putra Hartono (14) sudah suka dengan balon. Di usia 3 tahun Nicko bahkan hobi mengumpulkan balon yang didapat gratis dari mal sampai balon-balon tersebut kempes. Nah, kesukaan Nicko terhadap balon membuatnya menjadi seniman balon profesional termuda di usia 13 tahun. Bagaimana kisahnya?

Ibunda Nicko, Lily Husnia (46) mengungkapkan di usia 7 tahun, Nicko mulai belajar membentuk balon. Ketertarikan Nicko untuk membentuk balon bermula ketika ia melihat seorang bapak membuat aneka bentuk balon dan Nicko mengatakan itu hal yang mudah.

“Akhirnya saya belikan dia starter kid. Di situ Nicko eksplorasi sendiri. Kita download tutorial membuat aneka bentuk balon dan dia belajar secara otodidak. Baru di usia 10 tahun Nicko saya ikutkan workshop balloon art di Singapura. Itu dia peserta termuda karena peserta yang lain itu event organizer, guru, usianya 20 tahun ke atas semua,” tutur Lily.

Ditemui di sela-sela Konsulteatime yang diselenggarakan TigaGenerasi dan Adalima di Gastromaquia, Jakarta Selatan, Selasa (23/8/2016), Lily menceritakan jika Nicko sempat ditolak ketika akan didaftarkan dalam simposium balloon art di Malaysia. Sebab, Nicko dianggap masih anak-anak dan belum jadi seorang balloon artist profesional. Nah, sejak itulah Lily mulai rajin mendokumentasikan hasil karya Nicko dan mengunggahnya di website nicorner.

Di bulan Juni 2015, bersama dengan Adalima, Nicko mengikuti Indonesian Balloon Art Festival (IBAF). Saat itu, Jayasuprana melihat penampilan Nicko hingga akhirnya ia dianugerahi rekor MURI sebagai balloon artist termuda di Indonesia saat usianya 13 tahun.

Menurut Lily, seiring bertambahnya usia Nicko, terdapat perbedaan kegiatan ‘bermain’ balon Nicko. Dulu Nicko lebih banyak menghabiskan waktu merangkai balon tapi kini, karena lebih banyak kegiatan di sekolah dan bersama teman-temannya, waktu Nicko merangkai balon lebih sedikit.

“Dulu karena saya jarang belikan mainan, jadi dia bikin bola, gawangnya dari balon. Kalau sekarang kalau dia lagi mau ya bikin balonnya. Nicko juga kalau bikin balon kan berdasarkan imajinasinya aja. Makanya kalau lagi perform saya bawa semua warna balon. Karena misal bikin monyet, belum tentu warnanya cokelat, bisa aja merah atau merah muda gitu, jadi tergantung imajinasi Nicko aja,” tambah Lily.

Meski menjadi balloon artist, Lily menekankan pada sang putra untuk tetap mengedepankan urusan sekolah. Dalam membuat balon pun Lily selalu menekankan pada Nicko agar ia selalu menyelesaikan pekerjaan merangkai balon yang sudah ia setujui. Hal itu dilakukan untuk menjaga mood Nicko tetap baik.

Meski demikian, kegagalan juga pernah dialami Nicko dan itu smepat membuat ia kecewa. Namun, Lily berusaha mendokumentasikan hasil karya Nicko yang gagal supaya bisa dijadikan pelajaran di kemudian hari. Lily dan sang suami, Januar Hartono (46) berusaha untuk tetap mendukung sang putra mengembangkan kemampuannya.

“Tapi biar begitu saya tetap kedepankan sekolah Nicko ya. Nanti di tahun 2017 Nicko ada kesempatan untuk ikut di Guinness Book Record tapi mesti dilihat dulu karena Maret 2017 bersamaan sama jadwal ujian nasionalnya. Kalau lagi UN, nggak bisa ikut kan,” tambah Lily.

Bagi Nicko, ketika ia bisa membuat aneka bentuk balon dengan mengandalkan imajinasinya dan hasilnya bagus, itu bisa menimbulkan kepuasan tersendiri. Apalagi, jika ia membuat balon dari karakter yang sedang nge-tren, misalnya berbagai bentuk karakter dalam Pokemon-Go. Nah, Nicko pun punya pesan untuk anak-anak Indonesia lain agar bisa berkarya.

“Untuk teman-teman kalau punya satu bakat atau talenta dari kecil dikembangkan, supaya pas besar bisa dilanjutkan. Jangan menyerah. Aku pun waktu itu pernah nyerah tapi orang tua bantu support dan akhirnya aku bisa bangkit lagi,” kata siswa kelas 3 SMP Dian Harapan Lippo Karawaci ini. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL