KCSJakarta, LiputanIslam.com – Konflik antar beberapa negara di kawasan Laut China Selatan telah berlangsung selama bertahun-tahun dan belum menemukan titik temu. Saling klaim wilayah kerap terjadi. Di manakah posisi Indonesia hari ini?

Presiden Joko Widodo akhirnya menegaskan sikap dalam konflik Laut China Selatan. Dalam wawancara dengan Surat Kabar Jepang, Yomiuri Shimbun, Senin (23/3/2015), Jokowi menilai Tiongkok perlu hati-hati menentukan peta perbatasan lautnya.

Bagaimana tidak, Tiongkok menggambar sembilan titik wilayah baru di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan menurut Kementrian Luar Negeri (Kemenlu), Pulau Natuna merupakan Zona Ekonomi Eksklusif milik Republik Indonesia.

“Sembilan titik garis yang selama ini diklaim Tingkok dan menandakan perbatasan maritimnya tidak memiliki dasar hukum internasional apa pun,” kata Presiden Jokowi, seperti dilansir Merdeka.

Indonesia sudah mengajukan keberatan atas sembilan titik itu pada 2009 ke Komisi Landas Kontinen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meski demikian, hubungan RI- Tiongkok masih berjalan baik.

Tiongkok menggambar sembilan titik itu didasarkan pada klaim mereka atas Kepulauan Spratly. Pulau ini masih dalam status sengketa dengan Filipina serta Vietnam. Bila Negara Tirai Bambu ini bisa lebih arif saat menghadapi sengketa Laut China Selatan, menurut Jokowi, situasi kawasan akan lebih kondusif.

“Kami mendukung Code of Conduct terkait Laut China Selatan, serta dialog antara China dan Jepang, dan China-ASEAN,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan Jokowi selama melawat ke Jepang. Indonesia tengah merangkul Negeri Sakura itu untuk kerjasama di bidang pertahanan.

Seperti diketahui, konflik di Laut China Selatan melibatkan 6 negara, yakni Malaysia, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, China dan Taiwan. Setiap negara berusaha mematok landas kontinen masing-masing, mengingat di perairan itu kaya sumber daya alam. Di wilayah ini, diperkirakan terkandung 17,7 miliar minyak mentah.

Selain itu, Laut China Selatan adalah jalur laut tersibuk dunia. Beijing yang memulai konflik ini dengan mengeluarkan peta pada 1947, dengan mengklaim kepulauan milik Filipina dan Vietnam sebagai miliknya, dengan alasan sejarah.

Konflik bersenjata terakhir akibat Laut China Selatan terjadi pada 1988. Saat itu Angkatan Laut Vietnam diusir dari Kepualauan Spratly. Vietnam kehilangan 60 tentaranya akibat pertempuran singkat tersebut. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*