Membangun tanah kelahiranWonosobo, LiputanIslam.com — Tidak semua orang berpikiran sama seperti Nur Saudah Al Arifa D, seorang sarjana Teknik Pertanian jebolan Universitas Gadjah Mada, yang memilih membangun bangsa melalui dunia pendidikan. Jika pada umumnya para sarjana berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan atau membangun usaha, Arifa justru mendirikan Gadjah Mada Mengajar pada tahun 2011, yang terus berkembang hingga saat ini dan diteruskan oleh para mahasiswa aktif.

Tidak berhenti sampai di sana, pada awal 2015, Arifa mendirikan komunitas serupa di daerah kampung halamannya, Wonosobo, yang kemudian diberi nama Wonosobo Mengajar.

“Membangun Wonosobo Mengajar karena pendidikan di sana berada di tingkat yang paling bawah, dan untuk bangun desa. Selain itu, karena saya asli orang Wonosobo, saya jadi merasa punya tanggung jawab moral untuk membangun di sana, agar semua bisa maju, bukan hanya kita sendiri yang maju,” kata Arifa, seperti dilansir Merdeka, 11 Maret 2015.

Sampai saat ini dalam salah satu programnya Wonosobo Mengajar sudah mendampingi empat SMA untuk menuntun lulusan SMA yang tidak mampu agar dapat bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas.

“Anak-anak SMA yang tidak mampu nggak boleh putus harapan, jadi kita dampingi hingga diterima dan dapat beasiswa. Saat ini kita sudah berhasil pegang 4 sekolah, yakni SMA 2 Wonosobo, SMA 1 Sapuran, SMA 1 Kretek, dan SMA 1 Mojotengah. Sejauh ini universitas yang jadi pilihan favorit masih di UGM, UNDIP, dan UNY,” ujar Arifa.

Saat ini Arifa juga tengah menempuh program S2 Magister Managemen Agribisnis melalui program beasiswa Calon Dosen BPPDN Dikti. Kendati demikian, ia selalu menyempatkan dirinya di waktu luang untuk mengajar dan memberikan motivasi kepada anak-anak sekolah dan kepada rekan-rekannya. Kesibukan dalam penelitian dan tesisnya pun turut menjadikan semangat untuk dirinya sendiri.

“Selama ada waktu luang, kita manfaatin untuk itu (mengajar dan beri motivasi), buat saya belajar juga. Karena setelah lulus harus mengabdi di kampus daerah 3T, kurang lebih tiga tahun. Ini karena saya dapat beasiswa S2 untuk dosen dari dikti,” ucap Arifa.

“Merasa punya kewajiban untuk mengajar, mendidik, dan membangun bangsa. Dan, ya semua memang volunteer, selama bisa saya jalanin, pasti saya penuhi,” ujarnya sambil sedikit tertawa di ujung telepon.

Pengalamannya dalam mengajar pun tidak usah diragukan lagi. Dia sudah menjelajah beberapa daerah untuk mengabdikan dirinya cuma-cuma.

“Kalau yang di Papua itu saya ikut program MSD dari Dompet Duafa, tepatnya di Timika, akhir 2012. Selain itu juga saya mengajar di pedalaman Jogja, Blora dan cukup lama di Blora, juga di Sumatera. Di Sumatera mulanya juga dari kerjaan, saya ngerjain proyek program air bersih, karena atasan saya tau, saya suka ngajar, dimintalah untuk sharing-sharing ke anak-anak di sana, dan saya suka itu,” tambahnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*