ImlekJakarta, LiputanIslam.com — Tahun Baru Imlek 2566 yang jatuh pada hari ini, 19 Februari 2015, diperingati dengan sukacita oleh rakyat Indonesia, terutama dari etnis Tionghoa. Di berbagai pusat perbelanjaan dan fasilitas umum lainnya, suasana begitu semarak dengan warna merah menyala dan lantunan kecapi.

Perayaan Imlek tidak hanya ramai diselenggarakan di kelenteng, namun juga menjadi ritual tradisi di masjid, gereja, bahkan sebagai kirab masal. Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jogjakarta menyelenggarakan Imlek di Masjid Syuhada’. Orang-orang Tionghoa bersama warga pribumi Jawa di Surakarta bahkan menyelenggarakan Imlek dalam tradisi Jawa dengan ritual Grebeg Sudiro. Akulturasi tradisi ini menjadi jembatan untuk menegosiasikan ritual antar-sekat etnis dan agama.

Pada masa Soeharto, warga Tionghoa tidak boleh menampakkan ekspresi kultural dan religiusnya di panggung publik. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967, yang menjadi produk hukum rezim Orde Baru, melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Peristiwa tragis pada Mei 1998 menjadi puncak represi Soeharto, yang membawa korban bagi orang Tionghoa yang meninggal serta kehilangan rumah dan pekerjaan.

Ketika menjabat presiden, Gus Dur mencabut Inpres 14/1967, lalu menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Baru pada era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, mulai 2003 Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Indonesia merupakan negara heterogen, yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Tak heran jika Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Imlek merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang ikut menciptakan budaya keberagaman di Indonesia.

“Semoga perayaan Imlek kali ini membawa keberkahan, kedamaian, dan kesejahteraan. Imlek merupakan tradisi yang sudah begitu lama dan menginspirasi toleransi beragama,” ujar Lukman saat ditemui dalam penutupan Mukernas I PPP di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2015), seperti dilansir Kompas.

Lukman mengatakan, saat ini kebiasaan untuk saling bertoleransi antarumat beragama semakin tinggi. Menurut Lukman, kesadaran bertoleransi tidak hanya ditunjukkan oleh warga yang merayakan Imlek, tetapi juga warga yang tidak membiasakan diri merayakannya.

“Walaupun banyak yang tidak membiasakan diri untuk merayakan, namun tetap menghormati saudara-saudara kita yang merayakan Imlek,” kata Lukman. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL