terasolo 2

Proses pembuatan kain lukis

Solo, LiputanIslam.com — Niat awalnya hanyalah berusaha memberdayakan para pemuda di kampungnya, namun siapa sangka jika kini, kain lukis yang dikembangkan Yani Mardiyanto berhasil menembus pasar internasional. Hasil karyanya telah merambah Malaysia, Singapura, bahkan Amerika Serikat.

Berawal dari komunitas seni di kampungnya, Yani Mardiyanto memindahkan kegiatan lukis yang biasa dilakukan di tembok maupun kanvas ke dalam sehelai kain. Lukisan-lukisan kreatif dari anak muda di sekitar rumahnya dipindahmediakan ke kain sifon hingga menjadi gamis, kain paris dalam bentuk jilbab, dan ke kain katun hingga menjelma kemeja dengan motif nan apik.

Mengusung nama kain lukis Nasrafa, akronim dari nama ketiga anaknya, Naswa, Raffa, dan Fadhil, goresan-goresan cat acrylic pada kain itu ternyata mendapat respon positif dari masyarakat.

“Dahulu kita mulai awal tahun 2012. Saya bekerja di salah satu industri tekstil, dan juga dulu memang jualan jilbab, kemudian punya ide untuk membuat kain lukis. Kebetulan di kampung sini kan banyak anak-anak yang pintar ngelukis, nah mereka yang saya berdayakan hingga sekarang,”  kenang pria yang akrab disapa Pak Yani, seperti dikutip dari Terasolo, Sabtu, 7 Februari 2015.

Proses pembuatannya pun sederhana. Bertempat di kawasan Petoran, Jebres, Solo, galeri sekaligus bengkel kerja Nasrafa, kain yang akan dilukis dibentangkan pada gawangan bambu, kemudian para seniman muda yang total berjumlah enam orang ini langsung menggoreskan cat acrylic pada kain masing-masing. Tanpa sketsa, tanpa pola, murni mengandalkan imajinasi dan tangan kreatif mereka.  Dalam satu hingga dua jam, jadilah satu kain lukis yang siap diproses menjadi jilbab, kemeja ataupun gamis, masih dengan motif bunga dan daun yang menjadi ciri khas.

Pada proses terakhir biasanya akan ditambahkan glitter sebagai salah satu unsur penambah keindahan. Dalam satu hari, Nasrafa bisa menghasilkan puluhan produk kain lukis,sehingga dalam satu bulan bisa ratusan jilbab, gamis dan kemeja lukis siap dipasarkan.

Dengan pembuatan satu kain satu motif, maka hampir dipastikan semua produk dari Nasrafa tidak ada yang sama. Meskipun mirip, pekerjaan satu tangan untuk membuat bunga yang sama dalam waktu yang berbeda, hasilnya akan beda pula.  Meski menggunakan cat acrylic, kain lukis Nasrafa ini aman dan tidak luntur jika dicuci.

“Kain yang saya pakai ini produksi pertama, sudah tiga tahun sampai sekarang motifnya masih bagus, bahkan glitter-nya pun masih menempel dengan baik. Kuncinya, silakan dicuci sewajarnya dan disterika seperti biasa, justru dengan disetrika malah lukisannya semakin menempel pada kain kok,” ungkap Yani.

Kain lukis Nasrafa biasa dijual mulai dari 50 ribu rupiah hingga ratusan ribu, tergantung pada jenis kain yang digunakan dan keindahan motif yang dilukis. Sudah banyak pesohor negeri yang memakai kain lukis ini, seperti istri dari mantan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi dan istri dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Kain lukis Nasrafa juga sering memamerkan keunikannya di berbagai pameran besar di kota-kota di Indonesia. Uniknya, jika pameran, Nasrafa selalu membawa juga Komunitas Ngisor Kecacil yang menjadi embrio lahirnya kain lukis Nasrafa. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL