2054224al-quran-bergambar-di-museum-sonobudoyo780x390Yogyakarta, LiputanIslam.com— Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu Ramadhan dan belajar Islam. Bila sedang berada di Yogyakarta, maka mengunjungi Museum Sonobudoyo dan menilik koleksi Islam daru abad ke-18 merupakan salah satu pilihan.

Museum itu menyimpan naskah kuno dan alat main congklak yang unik dan digunakan untuk penyebaran Islam pada masa lalu.

Salah satu koleksi adalah Al Quran yang berbahan kulit sapi. Kitab tersebut adalah hibah Sri Sultan Hamengku Buwono VII. “Pujangga yang menulisnya belum diketahui dengan pasti,” jelas Rendy Prasetyo, Pemandu Museum Sonobudoyo.

Terdapat pula naskah kuno beraksara pegon, sebuah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, diduga dikembangkan oleh Sunan Ampel pada tahun 1400-an. Naskah tersebut berisi tulisan yang dikembangkan berdasarkan Al Quran dan disertai ilustrasi sehingga lebih mudah dicerna.

Museum Sonobudoyo juga menyimpan koleksi alat musik dan permainan yang digunakan untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Koleksi itu menunjukkan, Islam pada masa lalu tidak dipromosikan dengan kekerasan.

Alat main congklak (disebut dakon) merupakan salah satu alat permainan yang tersimpan. Dakon masa lalu hanya punya 5 lubang permainan yang merupakan representasi dari 5 rukun Islam. Koleksi alat musiknya adalah rebana, pada masa lalu dibawa oleh orang Arab dan digunakan untuk menyiarkan agama Islam.

Koleksi lain adalah sajadah dari anyaman bambu. Dahulu, masyarakat belum mengenal sajadah kain sebab kain masih dianggap sebagai bahan mahal.

Menurut Erwin Djunaedi, Ketua Komunitas Night at the Museum, sebagian besar koleksi Islam memang didapat dari hibah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Saat itu Java Instituut, Yayasan Kebudayaan Jawa, Bali, Lombok, dan Madura pada masa kolonial yang merupakan perencana pendirian Museum meminta untuk menghibahkan beberapa koleksi milik Keraton.

“Sri Sultan mengabulkan permintaan tersebut karena Beliau merasa jika hal tersebut merupakan bagian sejarah yang penting bagi masyarakat,” terang Erwin.

Acara Ramadhan di Museum ini digelar di empat museum yang berbeda yang diawali di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan akan berlanjut di Museum Affandi, Museum Monjali dan Museum Sandi. “Ini tahun kedua kami mengadakan acara ini dan peminatnya terus bertambah. Dan tahun ini ada 10 kali event dengan tema yang berbeda-beda,” tambah Erwin. (ra/kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL