say_no_alshabaab-620x330Jakarta, LiputanIslam.com — Akhir Maret lalu, Indonesia dihebohkan dengan berita tewasnya Muhammad Ridwan Abdurrahman, putera dari Abu Jibril, salah satu pentolan Majelis Mujahidin. Kabarnya, keluarga Abu Jibril menanggapi kepergian puteranya dengan sukacita, karena yakin bahwa ia telah syahid dan akan bersua dengan bidadari surga. Berita ini tentu tidaklah mengagetkan, mengingat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme telah menyampaikan bahwa ada ratusan WNI yang telah bergabung dengan faksi-faksi teroris di Timur Tengah.

Di sisi lain, perekrutan jihadis baru juga sangat gencar dilakukan melalui dunia maya, meski akhirnya pemerintah mengambil tindakan dengan memblokir 22 situs ‘Islam’ yang dianggap memuat konten yang berbahaya seperti terorisme dan radikalisme. Sepanjang tahun 2014 juga banyak digelar deklarasi/ baiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/ISIL/IS) yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia.

Anehnya, justru banyak jihadis asal Jawa Tengah menolak bergabung dengan ISIS kendati diiming-imingi kemakmuran. Mereka memilih bekerja secara halal di Indonesia karena menurutnya, hal itu juga bagian dari jihad.

Seorang mantan jihadis, Yusuf Adirima alias Abu Husna mengungkapkan, bahwa ia berhenti dari dunia radikalisme turut mengubah pandangannya tentang konsep rezeki. Dulu, ia mengakui rezeki di bawah kilauan panji-panji jihad.

“Rezeki adalah Ghanimah, yakni segala harta kekayaan orang-orang kafir yang dikuasai oleh kaum muslimin melalui perang penaklukan (harta rampasan perang). Dulu rezeki di bawah kilauan pedang,” kata Yusuf, seperti dilasnir Tribun Jateng, Rabu, 8 April 2015.

Kini, Yusuf punya pendapat lain berkaitan dengan rezeki. Baginya rezeki sesuai ajaran Rasul adalah bagi mereka yang rajin berusaha. “Tidak mesti melalui rampasan perang,” tandasnya.

Ia berujar sebenarnya ada dua konsep mata pencaharian (rezeki) yang dijalankan para jihadis yaitu amal sehari-hari dan amal dari perang. Dulu amal (rezeki) dari perang jadi rezeki primer, sekarang usaha sehari-harilah yang jadi amal utama.

“Bagi saya rezeki itu pilihan amal. Kalau di lapas, amal terbaik adalah baca Quran. Ketika keluar, sebaliknya, saya harus berinteraksi dengan kehidupan yang kompleks,” tuturnya.

Ia tidak menampik cerita masa lalunya. Namun, terkait Islam yang dipikirkannya saat ini adalah Islam sebagai jawaban. Jika ada pengangguran, bagaimana Islam menjawabnya dan lain sebagainya.

“Begitu juga sebagai kaum muslim yang hidup di Indonesia. Sudah seharusnya usaha yang dilakukannya sesuai aturan yang ada di Indonesia,” tandasnya.

Bagaimana kisah Yusuf ketika menjadi jihadis? (Baca selanjutnya: Letakkan Senjata, Mantan Jihadis Buka Usaha Kuliner) [ba]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL