Ahmad Junaedi/JakartaPost

Ahmad Junaedi/JakartaPost

Depok, LiputanIslam.com – Meskipun semua pengeluaran selama perjalanan ditanggung oleh Salim, Junaedi merasa perjalanan ke Suriah ternyata sulit. Mantan pedagang bakso ini meninggalkan empat orang anaknya dan istrinya di Malang pada tanggal 23 Maret tahun lalu dan berangkat bersama 19 orang lainnya termasuk Salim bersama anaknya yang baru berusia 10 tahun, kemudian mereka transit di Jakarta dan Kuala Lumpur, sebelum akhirnya tiba di Istambul, Turki.

Setelah itu mereka menggunakan bus selama 18 jam menuju kota Gaziantep yang berada di perbatasan Suriah, mereka bertemu seorang Suriah yang mengatakan kepada mereka untuk melintasi kawat berduri dengan berjalan kaki, seperti diberitakan TheJakartaPost.

“Kemudian kami berada disana selama 24 hari di sebuah camp yang hanya dihuni oleh orang-orang Indonesia, kami diajari cara untuk menggunakan senjata, diajari dokrtin Islam dan diminta untuk lari pagi” ujar Junaedi.

Tidak lama setelah itu mereka pindah ke camp yang lain. Disitulah mereka bertemu dengan lusinan orang-orang lainnya dari negara yang berbeda, kemudian mereka diajari keterampilan lainnya. Ditempat itu, anggota yang dirasa cukup fit dan lancar berbahasa Arab akan dipilih untuk bersama pejuang ISIS lainnya.

Juanedi tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi tentara ISIS, ia juga merasa bahwa tugasnya untuk menjaga desa Harari, sebuah desa di timur Al-Bab di Suriah, membuatnya bosan dan merasa kecewa. Jauh dari bayangannya sebelumnya dimana ia bisa membantu sesama Muslim lainnya.

“Saya akui bahwa saya sangat kecewa dan lelah dengan semua hal itu. Ketika saya menghubungi istri saya sebulan sekali, dia selalu meminta saya kapan saya akan pulang karena dia tahu bahwa saya memang ingin pulang” tuturnya.

Junaedi dan 11 orang lainnya yang berasal dari Indonesia, diberi tugas untuk menjaga selama dua jam secara bergantian dalam sehari untuk menjaga kota, mereka dilengkapi dengan senjata AK-47. Sisanya ia pergunakan untuk membaca Al-Quran sendirian atau bersama yang lainnya. Dia mengatakan bahwa mereka tidak diberitahu berita apapun dan hanya dapat menghubungi keluarga mereka satu kali dalam sebulan selama berada di Al-Bab. (fie)

Next…

Before…

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL