Antrian BPJSJakarta, LiputanIslam.com — Dibagikannya 88,2 juta Kartu Indonesia Sehat (KIS) oleh pemerintah secara bertahap mulai pekan ini menimbulkan tanda tanya baru. Apakah para pasien pasti mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit? Dan, apakah pihak rumah sakit di Indonesia sanggup menangani para pasien?

Contohnya kasus yang terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Medan. RS ini kewalahan menerima pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, karena banyaknya masyarakat yang berobat. Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Sairi M Saragih mengatakan, pasien BPJS tersebut yang berobat dalam satu hari bisa mencapai 1.000 orang.

“RSUP Adam Malik tidak hanya menghadapi pasien BPJS, tetapi juga menerima pasien Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas),” ujar Sairi di Medan, Jumat, 1 Mei 2015, seperti dilansir Beritasatu.

Rumah sakit tersebut hanya memiliki 189 ruangan dengan 721 tempat tidur, termasuk intensive care unit (ICU), ruang rindu A dan rindu B. Selain itu, ruang VIP 32 ruangan, kelas I 55 ruangan, kelas II 26 ruangan, dan kelas III 66 ruangan.

“Jadi, sampai saat ini warga yang berobat di rumah sakit yang berada di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan RI itu, terus membludak dan harus mendapat layanan yang baik,” katanya.

Sairi menjelaskan, pasien rawat inap di rumah sakit itu, tidak hanya berasal dari Medan, tapi juga dari kabupaten/kota se-Sumatera Utara dan dari Provinsi Aceh.Rata-rata pasien BPJS yang dirawat di rumah sakit itu, banyak yang mengalami sakit cukup parah dan perlu mendapat penanganan yang serius tim medis.

“Penyakit tersebut, yakni diabetes, bronkitis, katarak, gangguan jantung, usus buntu dan penyakit yang berbahaya lainnya dialami masyarakat,” ujarnya.

Data yang diperoleh, jumlah kepesertaan masyarakat Sumatera Utara pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan saat ini mencapai enam juta jiwa.

Kisah Pilu Pasien Pengguna BPJS

Di lain sisi, kondisi pengguna BPJS tidak kalah memprihatinkan. Mereka juga dihadapkan pada persoalan yang rumit ketika berobat. Misalnya harus sabar mengantre selama satu malam.

Misalnya, yang terjadi di RSUD Cibinong, Jawa Barat. Satu jam sebelum azan subuh, aktivitas antrean sudah terlihat di pintu. Cara antreannya pun terlihat cukup unik. Para pengantre berinisiatif sejak pukul 04.00 WIB sudah meletakan helm di lantai sebagai tanda pemiliknya mengantre, kemudian disusul pengantre berikutnya.

Dilansir Nu Online, benda atau barang yang diletakan di lantai sebagai antrean bisa macam-macam, helm, topi, map, botol minuman, dan tas. Saat pintu gerbang rumah sakit hendak dibuka satpam, para pengantri berinisiatif berbaris teratur sesuai dengan benda yang diletakan pemiliknya masing-masing.

Dua kasus di atas menunjukkan bahwa fasilitas yang dimiliki negara untuk melayani rakyatnya masih sangat minim. Pasien yang sakit tidak bisa lekas diobati karena dihadapkan pada sistem administrasi yang panjang. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL