ugmYogyakarta, LiputanIslam.com — Penggunaan plastik yang mengkhawatirkan menjadi ide penelitian bagi lima orang mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Para mahasiswa Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik menciptakan plastik ramah lingkungan berbahan biji durian.

“Kami melakukan penelitian sejak awal 2014 untuk membuat plastik yang mudah terurai dengan memanfaatkan biji durian,” ujar salah seorang peneliti Fajar Bayu Prakoso.

Hal ini disampaikan Fajar kepada wartawan di Laboratorium Polimer Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, Jumat (11/3/2016).

Biji durian menjadi pilihan karena memiliki kandungan pati yang cukup tinggi yakni 50 persen. Sedangkan selama ini yang sudah pernah digunakan untuk perbuatan bioplastik adalah singkong yang memiliki kandungan pati sebesar 20 persen.

“Ditambah lagi selama ini belum ada pemanfaatan biji durian, hanya dibuang saja,” kata Fajar.

Di bawah bimbingan dosen Jurusan Teknik Kimia Prof Rochmadi, langkah pertama perbuatan bioplastik biji durian adalah dengan mengolah biji durian menjadi tepung. Tepung biji durian kemudian disaring dan dioven untuk menghilangkan kadar airnya.

Tepung yang dihasilkan kemudian dicampur dengan Low Density Polyethylene (LDPE), Maleic Anhydride (MA), dan initiator (Perbutyl D dan Perbutyl Z).

Sebanyak 5 uji coba dilakukan terhadap bioplastik tersebut yaitu uji kuat tarik dan elongasi (kelenturan), uji biodegrasi yaitu dengan ditanam di tanah, uji difusivitas dalam air, uji Fourier Transform InfraRed (FTIR) dan uji Differential Scanning Calorimetry (DSC).

“Kualitas produk sudah bagus, permukaannya rata dan tidak ada yang gosong. Kekuatan tarik plastik sudah masuk standar plastik pada umumnya, dan juga tahan terhadap suhu panas,” imbuhnya.

Sementara saat diuji biodegradasi yakni dengan menanamnya di media tanah kompos selama 2 bulan, diperoleh hasil bioplastik mengalami penambahan berat. Penambahan berat ini menunjukkan air sudah masuk ke dalam sampe dan seiring dengan waktu akan mengurai kandungan pati di dalam bioplastik.

Meski begitu, kata Fajar, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara rinci berapa lama waktu yang diperlukan untuk penguraian bioplastik ini. Namun mereka optimis penguraian bioplastik ciptaan mereka akan jauh lebih cepat karena dalam dua bulan sudah ada indikasi proses penguraian.

“Ke depan masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Dan diharapkan bisa diproduksi massal,” pungkasnya. (ba/detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL