Surabaya

Foto: Kabar kampus

Surabaya, LiputanIslam.com — Di beberapa daerah di Indonesia, penggusuran terhadap pemukiman penduduk bukanlah hal yang baru. Di satu sisi, banyak warga yang membangun secara sembarangan, tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Sedangkan pihak pemerintah, atas nama menegakkan hukum dan peraturan, kerapkali harus meratakan rumah-rumah penduduk dengan tanah.

Hal yang kadang diabaikan adalah dampak psikologi bagi anak-anak korban penggusuran. Misalnya, yang terjadi di desa Medokan Semampir, Surabaya. Penggusuran tersebut terjadi saat anak-anak Medokan Semampir pulang sekolah. Akibatnya, kejadian itu menjadi trauma pada sebagian anak.

Hal ini menimbulkan keprihatinan bagi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Lewat Badan Semi Otonom (BSO) ITS Education Care Center (IECC) BEM ITS mengadakan kegiatan mengajar dadakan di sana.

Muhammad Ishar, Direktur BSO IECC BEM ITS menuturkan, dampak psikologi/ trauma pada anak-anak itulah yang menjadi landasan BSO tergerak untuk membantu anak-anak memulihkan kondisinya. Dalam kegiatan tersebut, mereka tak hanya memberi pengajaran, namun juga menghilangkan trauma psikis anak-anak akibat penggusuran. Salah satu caranya yaitu melalui bercerita.

Diakui Ishar, cara tersebut menjadi pendekatan yang mumpuni untuk menghibur anak-anak tersebut. ”Karena sesuai pakem Albert Einstein yang mengajarkan untuk bercerita atau mendongeng, cara tersebut menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai kepada anak-anak,” jelas Ishar, seperti dilansir Kabar Kampus, 13 Februari 2015

Selain itu kata Ishar,mereka juga  memunculkan kebiasaan berdoa melalui nyanyian. Hal tersebut memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa setelah melakukan sesuatu harus disertai dengan berdoa.

“Inti pengajaran terletak melalui media yang menyenangkan untuk memacu kebiasaan yang baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ishar mengungkapkan, dalam kegiatan itu juga mereka membagikan buku gambar dan seperangkat alat tulis. Tak hanya itu mereka juga memberikan celengan kepada anak-anak agar  membiasakan menabung. Kegiatan mengajar di Desa Medokan Semampir diikuti oleh sebanyak 20 anak. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL