petaniLampung, LiputanIslam.com–Sugianto adalah satu dari sejumlah aktivis  pendamping warga Tulang Bawang yang ditangkap oleh polda Lampung saat melakukan aksi perlawanan terhadap PT BNIL pada 2 Oktober lalu.

Sebelum kejadian penangkapan itu berlangsung, pada bulan September, sekitar 2.000 petani di Tulang Bawang melakukan aksi menduduki lahan perkebunan tebu  PT BNIL. Lahan itu awalnya adalah lahan milik warga yang dirampas secara paksa oleh PT BNIL pada tahun 1993. PT BNIL bersama aparat TNI dan Polisi pada waktu itu memaksa warga menjual lahan kepada PT BNIL dan diganti dengan uang sebesar Rp 100 ribu.

Tak terima, warga meminta kembali tanah milik mereka yang diambil secara paksa lewat transaksi jual beli yang penuh ancaman dan kekerasan. Sejak sengketa tahun 1990-an hingga sekarang sudah ada 9 korban jiwa.

Pada 2 Oktober 2016, warga yang menduduki lahan PT BNIL diprovokasi Pamswakarsa dan berakhir bentrok. Puluhan sepeda motor dan beberapa mobil milik PT BNIL pun menjadi sasaran amukan warga.

Mencegah hal itu, polda Lampung mengerahkan empat kompi pasukan untuk menyerang warga yang masih menduduki lahan. Dari penyerangan itu polisi menangkap 12 orang petani dan sejumlah aktivis yang mendampingi warga sebagai target penangkapan, salah satunya Sugianto.

Penangkapan aktivis yang membantu warga melawan perampasan lahan oleh perusahaan sudah beberapa kali terjadi sebelumnya di Indonesia. Salah satu kasus penangkapan dialami oleh I Gusti Putu Dharmawijaya, aktivis Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI), pada 25 Agustus lalu. (ra/kpa.or.id)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL