terorisme- NU onlineJakarta, LiputanIslam.com — Para pelaku terorisme tidak jarang memanfaatkan media justru sebagai alat menyebarkan rasa takut di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, media tidak mengeksplorasi potensi-potensi yang bisa membuat para teroris menjadi ‘menang’. Artinya, kejayaan (glorifikasi) pada diri mereka tidak diangkat menjadi konsumsi publik.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Polisi Hamidin dalam diskusi bertajuk Diseminasi Pedoman Peliputan dan Peningkatan Profesionalisme Media Masa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta, Kamis (7/4/2016) di Gedung Hall of Blessing ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

“Contoh kasus terkini, kasus Siyono. Ada sebuah media nasional yang menulis berita dengan judul ‘Jenazah Harum Siyono’. Menurut saya Dewan Pers harus menegur hal itu,” ujar Jenderal Polisi bintang satu ini.

Lebih jauh, Hamidin mengungkapkan bahwa kaderisasi teroris saat ini tidak lagi face to face (bertemu langsung), tetapi mereka menggali sendiri lewat media di internet, baik paham radikal sampai merakit bom.

“Sebab itu, saya sendiri cukup tertarik saat bom Thamrin. Media memberitakan hal-hal yang justru menguatkan masyarakat, seperti mengekspose tukang sate dan penjual kacang rebus yang sedang asyik berjualan di tengah serangan bom,” terang Hamidin.

Senada dengan Hamidin, Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, media jangan menjadikan media sosial sebagai sumber utama, karena media sosial hanya sebatas informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

“Media juga jangan terlalu over dalam liputan, seperti menyorot bentrokan antara Polisi dan teroris sambil menunduk-nunduk misalnya. Selain membahayakan dirinya sendiri, liputan tersebut juga tidak baik untuk konsumsi publik,” ujar Yoseph.

Media, lanjut Yoseph, juga jangan sembarangan dalam mencari narasumber. Jangan mentang-mentang orang tersebut mantan Kepala BIN, lalu dimintai keterangan tentang kasus terorisme yang sedang terjadi. “Padahal si orang tersebut sudah tidak update lagi sehingga akan memunculkan persoalan baru bagi negara dan masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya, Yoseph memberikan petunjuk kepada 180 wartawan yang hadir untuk mengakses pedoman peliputan untuk isu-isu terorisme di www.dewanpers.or.id.

Selain kedua narasumber tersebut, hadir juga sebagai narasumber jurnalis Tempo Sunu dan mantan teroris Nasir Abbas serta 180 wartawan media online, cetak, dan televisi yang hadir sebagai peserta. (ba/Nu Online)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL