Esti Widayati memamerkan tiga produk keripik sayur/Tribun Jogja

Esti Widayati memamerkan tiga produk keripik sayur/Tribun Jogja

Jogja, LiputanIslam.com – Esti Widayati memiliki semangat untuk terus berwirausaha salah satunya dengan mengembangkan beragam keripik berbahan baku sayuran. Salah satu keripiknya yang dikenal mendapat julukan keripik paru KW (tiruan). Usaha keripiknya berawal dari usaha pembuatan souvenir. Melihat peluang pada usaha makanan ringan dan katering kemudian ia pun segera mewujudkannya.

Namun pada perjalanannya Esti akhirnya memilih untuk menekuni bidang usaha keripik sayuran. Esti beranggapan untuk mengembangkan usaha kateringnya yang berkembang pesat tersebut, ternyata membutuhkan tenaga ekstra yang menguras tenaga seperti dilansir dari tribunjogja.

Namun, agar memiliki kekhasan dan perbedaan dengan keripik lainnya, Esti berinovasi dengan produk keripik sayuran. Pada awal usahanya Esti memilih untuk membuat keripik dari daun singkong, daun seledri dan daun kemangi.

Ia sengaja menciptakan keripik singkong yang berbentuk seperti peyek paru sapi. Maka tak heran jika konsumennya menjulukinya sebagai keripik paru KW (tiruan).

Sambil meraup untung dari bisnisnya, Esti terus menerus melakukan inovasi. Salah satunya mengembangkan sayuran yang belum pernah dibuat menjadi keripik seperti menggunakan terong dan pare sebagai salah satu contohnya.

Terong dan pare merupakan momok bagi anak-anak. Tak banyak anak-anak bahkan hampir tidak ada anak-anak yang menyukai kedua jenis sayuran ini. Dengan alasan itulah ia merasa tertantang bagaimana caranya agar anak-anak suka terong dan pare namun disulap terlebih dahulu menjadi keripik yang gurih dan renyah.

Percobaannya itu membuahkan hasil yang positif. Anak-anak menjadi suka dengan produk keripik pare dan keripik terongnya. Rasa pahit pare pun tidak lagi terasa dilidah karena sudah berganti dengan rasa gurih keripik.

Tak butuh waktu lama, kini keripik paru dan keripik terongnya disukai oleh masyarakat. Pesanannya berasal dari beberapa kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Pacitan, Malang, Lampung dan sebagainya.

Dalam satu hari, Jaya Makmur, rumah keripik miliknya mampu memproduksi hingga 40 kg keripik sayuran khususnya keripik pare dan keripik terong. Ia menjualnya dengan harga Rp 80 ribu hingga Rp 85 ribu per balnya (2,5 kg). Bahkan ia pun mengemasnya dalam bentuk yang lebih terjangkau lagi dengan harga Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu untuk ukuran 1,75 gram.

Dari usaha keripiknya itu, Esti mampu memberdayakan ibu-ibu disekitar rumahnya sejumlah 8 orang karyawan. Selain itu Esti juga bisa menguliahkan kedua putrinya dari bisnis keripiknya tersebut. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL