Sumber: kumparan.com

Jakarta, LiputanIslam.com– Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyatakat MUI Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis menyatakan bahwa media sosial (Medsos) bukanlah guru. Oleh karena itu ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menjadikan medsos sebagai sandaran ilmu. Hal itu disampaikan Kiai Cholil di Jakarta, seperti dilansir republika.co.id, pada Jum’at (25/8).

Kiai Cholil menjelaskan, bahwa guru itu bukan hanya memberi ilmu pengetahuan,tetapi juga membimbing mana yang lebih utama dan lebih baik. Karena itu menurutnya, media sosial dan platform lain di internet seperti Google harusnya hanya ditempatkan sebagai referensi saja, bukan sebagai guru dan sandaran ilmu.

Walapun boleh dijadikan sebagai referensi, lanjut dia, akan tetapi validatas informasi dalam media sosial sering kali tidak jelas. Apalagi, informasi di medsos disiarkan secara parsial. Sumber informasi dalam medsos juga  seringkali tidak berasal dari satu  sumber sehingga memiliki pemahaman masalah yang berbeda pula.

Kiai Cholil menyarankan masyarakat sebaiknya mencari guru yang memiliki rekam jejak kelimuan yang jelas. Tidak hanya itu, guru yang dipilih harus punya keteladanan dalam ilmu serta punya jiwa membimbing dan mengayomi masyarakat.

Begitu juga dengan membaca buku untuk diamalkan, dibutuhkan guru untuk menguji kebenarannya. “Dari ilmu yang dibaca, tidak semua disampaikan, tapi dipilah-pilih saat akan disampaikan kembali ke muka umum,” ungkap Kiai Cholil. (Ar/Republika).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL