Sumber: nu.or.id

Yogyakarta, LiputanIslam.com– Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menyebutkan bahwa ada tiga godaan bagi penghafal atau pembawa misi Al-Qur’an di era masa kini. Tantangan pertama adalah arus pemikiran ekstremisme. Hal itu ia sampaikan saat tausiah di acara wisudawan penghafal Al-Qur’an di Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, Kamis (3/5).

“Pemikiran yang menghantui ajaran Islam saat ini adalah ekstremisme, baik yang kanan mau yang kiri,” ujarnya.

Menurutnya, Al-Qur’an kerap kali dijadikan sebagai alat legitimasi kelompok-kelompok ekstremisme. Kelompok ekstrem kanan biasanya memahami Al-Qur’an secara literalis sehingga memahami agama secara tekstual. Sementara, kelompok ekstrem kiri seringkali mengubah makna Al-Qur’an karena merasa tidak sesuai dengan pikirannya. “Biasanya hal ini akibat dari merasa pintar dan kurang iman,” ucapnya.

Tantangan kedua, lanjut dia, adalah ekonomi. Persoalan ekonomi juga kadang kala menjadikan seseorang lupa dengan Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Kiai Cholil menyarankan agar para penghafal Al-Qur’an memilih profesi yang mendukungnya untuk terus dekat dengan Al-Qur’an.  “Bahkan saat memilih jodoh pun harus ada komitmen agar terus menjaga dan mudawwamah (konsisten) dengan Al-Qur’an,” ungkapnya.

Kemudian yang ketiga, ialah persoalan politik. Kesibukan berorganisasi atau berpolitik juga sering kali melalaikan seseorang untuk menjaga Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Awalnya, mereka mungkin hendak mengimbangi dinamika sosial, tapi mereka malah hanyut dalam kegiatan-kegiatan politik.

“Harapan besar saya kepada penghafal Al-Qur’an untuk menjadi hamilul Qur’an, yaitu  pembawa misi Al-Qur’an untuk membangun peradaban di alam semesta,” tuturnya. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL