Image/share.america.gov

Image/share.america.gov

LiputanIslam.com – Berawal dari sebuah mimpinya untuk memiliki sebuah restauran, kini Martin Setiantoko malah sudah memiliki satu restauran di Virginia dan dua food truck yang berjualan kuliner asli Indonesia, sate, di Amerika Serikat.

Kisah sukses Martin boleh dibilang melalui perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah. Lulusan sekolah kuliner di Malang, Jawa Timur ini memutuskan untuk pindah ke New York di usia 24 tahun hanya dengan membawa uang $150 atau sekitar Rp 1.9 juta. Saat menginjakkan kaki di negeri paman Sam, ia tak lantas mampu mewujudkan mimpinya. Tapi ia tetap berusaha untuk mewujudkan mimpinya meskipun harus menjadi tukang cuci piring selama lima tahun lamanya.

Kerja kerasnya itu ternyata berbuah manis hingga akhirnya ia bisa membangun sebuah restauran di Virginia. Ternyata menjalankan sebuah restauran tidak semudah yang ia bayangkan. Ia akhirnya mengalami kesulitan keuangan terutama di enam bulan pertama menjalankan restaurannya. Ia bangkrut dan merasakan kelelahan karena sudah bekerja mati-matian. Butuh waktu tiga tahun lagi hingga akhirnya ia mendapatkan keuntungan dari restauran impiannya.

Martin Setiantoko/share.america.gov

Martin Setiantoko/share.america.gov

Dengan keuntungan yang didapatkannya ia akhirnya memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya. Keputusannya ternyata bukan membuka restauran baru melainkan ia memutuskan untuk membeli dua buah Food Truck. Ia akhirnya membuka lapaknya diatas truk yang dibelinya untuk berjualan saat jam makan siang di Washington. Keputusannya tersebut ternyata tepat. Keuntungan bisnis kulinernya ternyata lebih banyak dihasilkan dari Food Trucknya dibandingkan pemasukan dari restaurannya.

Bahkan kemampuan dalam marketingnya pun terbilang sederhana dan sudah cukup lumrah di Indonesia. Ia mengipasi sate-satenya di luar Food Truck seperti layaknya tukang sate Madura di Indonesia yang selalu sigap membolak balikkan sate sambil mengipasinya. Terbukti aroma satenya langsung bikin ngiler warga Amerika yang mencium aroma satenya. Dengan cara seperti itu Martin mengatakan “Kamu tidak perlu melakukan marketing lagi”, seperti diberitakan oleh share.america.gov.

Ditengah kesuksesan satenya di Amerika, Martin tetap menghadapi sebuah tantangan menjalankan sebuah restauran dan dua Food Trucknya. Ia harus membagi waktunya ke tiga lokasi yang berbeda. “Bisnis itu benar-benar membuat stress tapi harganya setimpal dengan keuntungan yang didapatkan” katanya ketika merasakan kebahagiaan ketika melihat antrian pembeli yang mengular didepan Food Trucknya yang sedang menunggu pesanannya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*