foto: merdeka

foto: merdeka

Palembang, LiputanIslam.com — Banyak pria yang memiliki kegemaran mengutak-atik kendaraan agar tampil beda dari kebanyakan. Hal itu disadari penuh oleh Bandi Simarmata, saat ia membuka usaha bengkel di kota kelahirannya, Sumatera Selatan. Ia menangkap peluang bisnis dari hobi utak-atik tersebut.

“Sejak kecil saya senang dibonceng naik sepeda motor keliling desa dengan Bapak. Sehari saja tidak dibonceng, saya bisa merengek terus minta diajak jalan-jalan,” ungkap Bandi mengenang masa kecilnya di Desa Batu Marta, Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, dalam buku Rhenald Kasali Wirausaha Muda Mandiri, terbitan Gramedia 2012, seperti dilansir Merdeka.

Saat duduk di bangku kuliah, kecintaan Bandi pada motor belum pupus. Di sinilah dia mulai berpikir untuk menekuni kecintaan dan hobinya itu menjadi peluang bisnis. Saat itu, di benaknya terpikir ingin membuka usaha bengkel motor di kampung halaman. Bisnis ini makin yakin dia geluti karena pecinta motor di tempatnya banyak tapi belum ada tempat perawatan mesin.

“Ini yang menginspirasi saya untuk mendirikan usaha perdagangan, variasi dan modifikasi serta jasa-jasa lain di bidang otomotif. Saya punya ilmu, kini tinggal penerapannya,” katanya.

Gagasannya ini sempat ditentang orangtuanya, yang menginginkan Bandi bekerja di kantor atau menjadi pegawai negeri. “Sampai lima kali saya memohon-mohon supaya bapak dan ibu mau merestui keinginan membuka usaha,” terangnya.

Tak sia-sia, usaha Bandi membujuk orangtuanya berhasil. Dia bahkan mendapatkan suntikan dana awal Rp 13 juta dan sepetak kios juga dipinjamkan. Uang itu ia pakai untuk belanja suku cadang, aksesori dan berbagai keperluan bengkel. Lucunya, sesampainya di lokasi jual beli, dia malah kebingungan dengan berbagai macam aksesoris dan suku cadang yang dijajakan.

Dia tidak menyerah. Bandi memutuskan untuk banyak berkonsultasi dengan mereka yang sudah banyak asam garam dengan otomotif termasuk ke penjual dan sesama pembeli.

Beres belanja, dia pulang ke kampung halaman dan membuka usahanya. Semula orang agak aneh dengan usaha yang ditawarkan bengkel Hot Variasi milik Bandi. Maklum jasa yang dia tawarkan bukan untuk memperbaiki sepeda motor, melainkan modifikasi dan variasi model.

Butuh waktu lama untuk orang berminat singgah ke kiosnya. Tapi itu tak jadi masalah buat Bandi. Di tengah kegigihannya menjalankan usaha tersebut, ada jalan terjal yang harus dilalui. Dia sebelumnya sudah menguatkan hati, setiap usaha pasti ada pasang surutnya bahkan bangkrut.

Masalah pertama yang dihadapi Bandi begitu berat. Kiosnya dilalap api. Hancur sekali Bandi kala itu, meski banyak barang yang masih bisa diselamatkan.

“Saya sadar, waktu dan kesuksesan tidak akan menunggu saya. Kalau mau berhasil, saya tidak boleh bertopang dagu,” jelasnya.

Dia kembali bangkit dan terus semangat membangun usaha ini. Dia mencari ide kreatif lain. Untuk pemancing tamu ke kiosnya, dia coba membuat lomba modifikasi motor. Beruntung, idenya disambut baik.

Makin optimis, dia kembali semangat mengembangkan usahanya. Tapi hambatan kembali dialami. Lima karyawan andalannya memutuskan keluar karena diambil saingannya karena diimingi gaji besar.

“Buat saya, itu adalah momen paling buruk dalam usaha saya. Meski terpaksa bekerja berdua saja, saya selalu yakin akhirnya konsumen bisa menilai siapa yang terbaik,” katanya optimis.

Usahanya semakin berkembang karena ciri khas yang ditampilkan bengkelnya dan siap bersaing dengan kompetitornya. Dia pun bisa menggaet belasan karyawan. Kini tinggal pembuktian tak sia-sia yang akan disampaikan ke kedua orangtuanya.

“Sekarang adalah saat saya membuktikan kepada orangtua dan keluarga bahwa hobi yang saya geluti selama ini bisa menjadi sumber penghasilan yang layak,” ucap Bandi bangga.

Kini dia sudah menempati ruko dua lantai. Omzet yang dia dapat pun cukup menggiurkan, Rp 15-20 juta per hari. Agar usahanya lebih berkah, dia merekrut anak-anak putus sekolah dan mendidiknya untuk menjadi karyawan.

“Anak-anak itu akhirnya menjadi mitra binaan saya. Saya mengajari mereka teknik membuka usaha dan memberikan barang-barang untuk modal. Mereka tinggal mencari lokasi untuk mendirikan usahanya,” jelasnya.

Maju tak berarti mati kreasi. Bandi terus meningkatkan kreativitasnya agar usaha yang dikerjakan tak mati dengan terus menerapkan motto ‘one stop modification’

“Maksudnya, memberikan pelayanan yang lebih lengkap dan terpercaya, baik dalam penjualan barang maupun jasa di bawah satu atap. Jadi orang tak perlu ke berbagai tempat untuk mendapatkan servis yang mereka butuhkan,” ujarnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL