LiputanIslam.com–Rob Rama Rambini telah dikukuhkan sebagai orang Indonesia pertama yang berani berlayar seorang diri dari Pantai Oakland, California, Amerika Serikat, ke Bali. Selama 10 bulan 27 hari, dia  berhasil menempuh jarak sekitar 10 ribu nautical mile (18.520 kilometer). Dan semua itu ia lakukan hanya karena rindu sang ibu.

Rama lahir di Roma, 20 November 1958, saat Sartono Wondowisastro, ayahnya yang diplomat, bertugas di Italia. Menginjak usia balita, Rama dibawa orang tuanya balik ke Indonesia. Dia menghabiskan masa kecil hingga SMA di Medan dan sebagian di Jakarta.

Pada 1981, Rama meninggalkan Indonesia menuju Amerika Serikat (AS). Sempat kuliah di Utah State University, Rama akhirnya memilih keluar pada tahun kedua. Dia kemudian berpindah ke Rusia dan beberapa negara Eropa selama dua tahun. Kemudian, Rama kembali dan menetap di San Francisco, California, AS. “Dulu, saya memang bandel, sering tidak cocok dengan orang tua,” ujarnya saat ditemui di rumah orang tuanya nan asri di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Karena itulah, sejak 1983, pria dengan ciri khas kepala pelontos ini tidak pernah lagi melakukan kontak dengan keluarga di Indonesia. Keluarga yang sempat mencarinya ke AS pun kehilangan jejak karena dia mengganti namanya menjadi Rama Rambini. Namun, karena orang-orang AS sering memanggilnya dengan sebutan Rob, ditambahkanlah nama Rob di depan nama Rama Rambini.

Di AS, berbagai pekerjaan pernah dilakoni Rama. Mulai bartender, front officer, penjaga toko, travel agent, hingga terakhir menjadi fotografer profesional. Namun, jiwa petualangnya terus bergolak.

Pada 2003, keinginannya untuk berpetualang semakin membara seusai membaca buku kisah Tania Aebi, perempuan yang pada Mei 1985 – November 1987, berhasil mengelilingi dunia dengan kapal layar seorang diri. Saat memulai petualangan itu, usia Tania baru 18 tahun. “Kalau Tania Aebi bisa mengelilingi dunia, saya juga harus bisa. Apalagi, setelah 20 tahun lebih di Amerika, ada rasa boring (bosan, Red),” tekad Rama kala itu.

Akhirnya, pada 2005 Rama membeli sebuah kapal layar bernama Kona. Itu adalah nama sebuah distrik di Hawaii atau bisa juga nama sebuah kopi campuran.

Kapal berbobot 14 ton itu memiliki panjang 30 feet/kaki atau sekitar 9 meter dan lebar 9,5 feet atau sekitar 3 meter, dengan tiga tiang layar setinggi 12 meter. Kapal dua silinder dengan jenis motor diesel berdaya 16 PK itu hanya dilengkapi alat sederhana, seperti kompas dan GPS (global positioning system). Tidak ada peralatan canggih seperti radar maupun pembaca cuaca.

Kona memang bukan kapal baru, melainkan kapal bekas yang dibuat pada 1966. Berarti umurnya sudah 39 tahun. Karena itu, saat dibeli Rama, harganya cukup murah, sekitar USD 10 ribu atau Rp 90 juta (dengan kurs Rp 9.000 = 1 USD).

Untuk memahami dunia pelayaran, selain dengan membaca buku, Rama mengambil kelas kursus pelayaran. Dia membayar USD 350 atau sekitar Rp 3,1 juta untuk ikut kursus privat dasar-dasar pelayaran dengan berlayar di Bay Area, kawasan teluk dekat San Francisco, yang terkenal dengan arus laut dan anginnya yang kencang. “Kalau ikut kursus lengkap, biayanya bisa ribuan dolar (AS). Tapi, karena hanya belajar basic (dasar) saja, jadi biayanya murah,” ceritanya

Rama bercerita, ide itu muncul karena teringat kejadian ketika neneknya meninggal dunia. Saat itu dia masih SMA di Medan sekitar awal 1980-an. Di saat terakhir neneknya, semua anaknya berada di luar negeri.

“Sebelum meninggal, saya ingat betapa sedihnya nenek. Saya jadi memikirkan Ibu. Ketika muda, saya memang bandel, karena itu saya berharap bisa bertemu dan meminta maaf, mumpung masih ada waktu. Karena itu, pada 2009, saya kirim postcard (kartu pos) ke Indonesia, bilang akan pulang. Tapi, tidak bilang kalau akan naik kapal layar,” katanya.

Persiapan pun terus dimatangkan. Rama sempat menghubungi pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di San Francisco, mengabarkan rencana keberangkatannya. Dia juga menyusun jadwal perjalanan dan mengirimkan e-mail pemberitahuan jadwal pelayaran kepada otoritas pelayaran negara yang akan dilalui, seperti Australia. Dia pun menjual barang-barangnya untuk bekal perjalanan.

Akhirnya, petualangan itu pun dimulai. Pada 8 Mei 2010, Rama beserta Kona-nya meluncur meninggalkan pantai Oakland, California. Lokasi tujuan pertama adalah Hawaii.

Sebagai bekal, Rama mengisi Kona dengan berbagai makanan, seperti makanan kaleng, corned beef, mi goreng, pan cake dan peanut butter, serta 100 liter air bersih. Tanki kapal terisi 80 liter bahan bakar solar, serta satu pak berisi sekitar 10 pasang pakaian. Tak lupa, laptop 14 inci dan kamera digital.

Pada 13 Desember 2010, setelah melewati banyak kawasan dan berbagai tantangan, Rama  mendarat di Tanimbar, Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. Setelah itu, sembari menunggu cuaca kondusif, dia singgah di Alor, NTB serta Flores, kemudian Lombok. Akhirnya, pada 3 April pukul 01.30 dini hari, Rama tiba di Marina Bay, Benoa, Bali.

Tiba di Benoa, Bali, sekitar 100 orang sudah menyambutnya, termasuk Ibu dan saudaranya. “Saya tak mengira akan mendapat sambutan seperti itu. Saya terharu, saya menangis ketika bertemu Ibu saya,” ceritanya.

Itulah Rob Rama Rambini, yang seorang diri menempuh perjalanan 10.000 nautical mile (sekitar 18.520 kilometer) selama 10 bulan 27 hari, dari California ke Bali, untuk menemui sang Ibu.

Di samudera, ketika sendirian, Rama sering hanya ditemani burung camar dan sesekali lumba-lumba. Membaca buku tentang pelayaran dan menjahit layar adalah aktivitasnya sehari-hari. Tidur hanya empat jam sehari dan hanya jika ada hujan dia mandi. Kini, dia ingin mengembangkan wisata pelayaran di Bali.

Berkat keberaniannya itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) memfasilitasi pemberian rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) untuk Rama.  (ra/ JPNN.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL