dr RinyJayapura, LiputanIslam.com–Tingkat kesehatan Papua dinilai masih buruk, terutama dalam empat hal, yakni kesehatan ibu dan anak dan gizi masyarakat, penyakit menular malaria, tuberculosis (TB), dan HIV-Aids. Berdasarkan hasil riset kesehatan nasional dan daerah yang dilakukan pada tahun 2013, angka kematian ibu dan anak di Papua dan Papua Barat merupakan yang tertinggi di Indonesia.  Penelitian lain menyebutkan bahwa resiko malaria seringkali infeksinya telah dimulai saat lahir dan tanpa disengaja, dan menjadi faktor mortalitas (angka kematian) ibu dan anak di Timika.

Sejumlah dokter muda tergerak untuk mendarmabaktikan kemampuan medis mereka di Papua. Sudah beberapa bulan ini dr Riny Sari Bachtiar, MARS dan kawan-kawannya yang tergabung dalam doctorSHARE menjalani program Dokter Terbang di pedalaman Papua.

Sebenarnya wilayah yang disinggahi dr Riny dan kawan-kawan itu bukan sama sekali tak tersentuh sarana dan prasarana kesehatan. Puskesmas dan Posyandu juga sudah ada di titik yang dianggap ‘dekat’ dengan lokasi, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

“Pukesmas juga ada di sana, tetapi memang kondisinya cukup memprihatinkan. Ada dipan, tetapi tidak ada kasurnya. Jadi langsung kayu begitu saja,” kata dr Riny, seperti dikutip detikcom, Jumat (10/7/2015).

Masalah lain adalah ketersediaan obat-obatan yang seadanya. Itulah yang membuat dr Riny mencetuskan ide dokter terbang, sehingga pelayanan kesehatan dapat terbarui beberapa bulan sekali.

“Kemudian juga ada Posyandu di sana. Puji Tuhan, mereka terbantu dengan adanya itu,” ungkap Riny.

Tugas para dokter terbang bukanlah untuk menggantikan tenaga medis yang ada. Mereka terbang ke wilayah itu sekedar untuk membantu masyarakat.

“Kita enggak mau mengganggu rutinitas yang ada. Niat kami hanya membantu saja di sana, dan bila memang masih ada kekurangan maka kami tak mau sok menggurui,” tutur dr Riny.

Padahal ada cukup banyak penyakit yang menhantui masyarakat Intan Jaya. Penyakit terbanyak adalah ISPA hingga patah kaki. Riny pun mengakui bahwa mereka juga memiliki keterbatasan dalam membawa alat-alat. Meskipun mungkin belum maksimal,  namun upaya mulia dr Riny mendapatkan sambutan dari masyarakat. Mereka terus meminta agar dr Riny dan kawan-kawan rutin datang ke Papua dan bahkan menetap di sana.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL