Kimono Batik Khas Banyumas/kompas.com

Kimono Batik Khas Banyumas/kompas.com

Banyumas, LiputanIslam.com – Kimono dikenal sebagai pakaian tradisional asal Jepang. Namun kini para pengrajin batik di Banyumas memodifikasi Kimono Jepang dengan menggunakan kain batik Banyumas. Bahkan, Kini mereka tengah mempersiapkan sebuah event pakaian yang akan digelar di Jepang pada bulan Mei 2015 mendatang. Sengaja mereka telah menyiapkan 15 Kimono khas Banyumas.

Para pengrajin batik dari Desa Papringan ini melihat celah dalam dunia fashion. Salah satunya adalah dengan memodifikasi Kimono Jepang dengan menggunakan batik khas Banyumas. Beberapa motif khas batik Banyumas seperti babon angrem, sungai serayu dan jahe puger menjadi ciri khas batik Banyumas yang diaplikasikan dalam bentuk Kimono Jepang seperti diberitakan kompas.com.

Ketua KUB Papringan Siarmi mengatkan bahwa untuk membuat Kimono rasa Banyumas itu memerlukan 2 potong kain mori atau katun. Lama proses pembuatannya sendiri relatif berbeda-beda.

“Waktunya tergantung motifnya kaya apa dan pewarnannya. Kalau motifnya susah pasti lebih lama kalau batik tulis. Untuk kain batik tulisnya aja bisanya satu minggu baru selesai,” kata Siarmi.

Untuk pengenalan kimono rasa Bayumas sendiri, KUB Pringmas dibantu oleh salah satu Dosen Universitas Diponegoro yang sudah sering memperkenalkan batik-batik Indonesia di Jepang. Ia berharap, dengan diperkenalkannya kimono rasa Banyumas itu, Desa Papringan bisa lebih dikenal oleh masyarakat dunia. Apalagi, Papringan juga memiliki batik yang sangat kental akan budaya Jawanya.

Selain akan mempemperkenalkan batik Papringan ke Jepang, Siarmi dan kawan-kawannya di KUB Pringmas juga telah memperkenalkan batik khas Bayumasan ke Hongkong. Pada Januari 2015 lalu, mereka sudah mengirimkan 20 pakaian anak-anak dengan motif batik Banyumas ke Hongkong.

Harga kain batik Papringan berkisar dari Rp 200.000 hingga Rp 1 juta, tergantung jenis batik dan kerumitan motifnya. Siarmi bersyukur, dengan semakin dikenalnya batik Papringan, pendapatan perajin batik di Desa Papringan semakin membaik. Saat ini kata dia, 1 orang perajin batik mendapatkan upah Rp 50.000 untuk setiap kain batik.

“Batik itu kan peninggalan kakek-nenek kita disini. Sudah mengakar ke masyarakat Desa Papringan. Sekarang kita yang melanjutkan warisan itu, jadi kita lakukan pembaruan juga kaya pewarnaan biar ini tetap lestari dan dikenal masyarakat kalau Desa Papringan itu penghasil batik juga mas,” ucap Siarmi. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL