Sumber: gramha.com

Jakarta, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan rasa kehilangannya atas wafatnya Mustasyar PBNU KH Saifuddin Amsir. Menurutnya, Kiai Saifuddin merupakan sosok ulama yang alim dan berilmu luas. Ia juga pejuang akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

“Kita kehilangan seorang alim dari Betawi yang betul-betul mujahid berjuang mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Kealimannya, keilmuannya yang sangat dalam,” kata Kiai Said usai menghadiri peluncuran buku Nasionalisme Kaum Sarungan karya Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini di Gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis (19/7).

Menurut Kiai Said, masyarakat Muslim dan Nahdliyin (warga NU) dapat meneladani kealiman Kiai Saifuddin. Kita dapat mewarisi keilmuan almarhum yang selalu membaca kitab kuning. Sebab, menurut Kiai Said, kalau sudah semakin tidak ada orang yang ahli kitab kuning, itu berbahaya.

Sementara Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Khusus Ibukota Jakarta KH Mahfudz Asirun juga menyatakan bahwa keilmuan Kiai Saifuddin sangat luas. “Ketika dia mengajar itu ilmunya luas sekali sehingga beberapa baris yang ia baca, komentarnya banyak. Jadikan beliau salah satu rujukan,” ungkapnya.

Seperti lansir NU Online, berikut beberapa karya Kiai Saifuddin yang telah dicetak: 1) Tafsir Jawahir al-Qur’an (empat jilid), 2) Majmu’ al-Furu’ wa al-Masail (tiga jilid), dan 3) Al-Qur’an, I’jazan wa Khawashan, wa Falsafatan. Karya yang disebut terakhir ini merupakan magnum opus/masterpiece (karya besar) Kiai Amsir yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Pasalnya, selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawahir al-Qur’an (hlm. 1-140), Al-Dzahab Al-Ibriz fi Khawashil Qur’an al-Aziz (142-172), Qanun al-Ta’wil (173-184). Ketiganya karya Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali .

Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab, antara lain Fadhāil al-Qur’ān karya Syeikh al-Hāfidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajāib al-Qur’ān karya Syeikh Fakhruddin al-Rāzī (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawāsi al-Qur’ān al-Karīm karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623). Komentar (syarah) yang ditulis Kiai Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut.

Dalam menyusun karyanya, ia memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an. Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid. (ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*