Sumber: beritajakarta.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa NU mengemban dua amanat utama, yakni amanah diniyah (agama) dan amanah wathoniyah (menjaga bangsa). Hal itu disampaikan Kiai Said pada peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-92 di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Daan Mogot, Jakarta, pada Rabu (31/1).

Menurut Kiai Said, di atas pundak NU terdapat amanah untuk menjaga, mengawal, dan mengembangkan agama Islam. Karena Islam suci, baik, dan mulia, maka cara mendakwahkannya dengan cara yang baik. “Kalau dakwah Islam tapi dengan cara yang tidak baik, dengan caci maki, maka itu bukan dakwah Islamiyah. Itu sama saja mencoreng dan menghancurkan nama baik Islam,” ucapnya.

Pada prinsipnya, lanjut dia, NU memiliki prinsip dalam beragama, yakni, tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). “NU tidak mengenal ekstrem kanan, radikal, apalagi terorisme. Juga, tidak mengenal liberalisme yang bebas sebebas-bebasnya. NU tidak liberal dan tidak radikal. Tidak tekstual juga tidak terlalu mengedepankan rasionalitas. NU berpegang teguh pada sikap moderat atau toleran,” ungkapnya.

Kiai Said menjelaskan bahwa sikap moderat tidak bisa terwujud kalau tanpa ilmu pengetahuan. Bersikap moderat berarti harus bisa menggabungkan teks suci dengan rasionalitas. Memakai ayat Al-Quran dan Hadits juga memakai akal. “Kalau tanpa ilmu, yang ekstrem kanan tinggal teriak Allahu Akbar. Tidak usah pintar. Kalau ekstrem kiri, tinggal bilang shalat tidak wajib. Selesai,” ujarnya.

Kemudian ada sikap tasamuh yang sangat penting dalam membangun peradaban. Ia mengambil contoh Rasulullah yang berhasil mempersatukan warga negara Madinah. Islam, Yahudi, dan Kristen, diperlakukan dengan sama. Tidak dibeda-bedakan. “Di hadapan hukum, semua sama. Tidak memandang Islam atau non-Islam,” katanya.

Selain amanah menjaga kesucian agama, di pundak NU terdapat juga amanah untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. “Di atas pundak NU, baik dapat jatah atau tidak, tugasnya adalah menjaga dan merawat keutuhan NKRI. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Islam, sudah final. Tidak bisa dipertentangkan lagi,” tegasnya.

Menurut Kiai Sa’id, bagi orang-orang yang gagal paham maka akan mengira Pancasila akan menggantikan agama. Padahal, menerima Pancasila bukan sebagai agama. Melainkan sebagai dasar untuk membangun negara.

“Silakan ibadah dengan sangat baik, tidak mengganggu Pancasila. Karena memang Pancasila dan Islam tidak saling mengganggu. Untuk agama, silakan dikuatkan. Tapi jaga Pancasila untuk NKRI,” tambah Kiai Said. (Ar/NU Online).

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL