Sumber: nu.or.id

Yogyakarta, Liputanislam,com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa Islam mempunyai peran besar dalam membangun peradaban dunia. Namun sayangnya, di perguruan umum di Indonesia jarang menyebut peran para cendekiawan muslim. Hal ini menurut Kiai Said merupakan kezaliman dalam pendidikan.

“Padahal di Barat, siapapun orientalis ketika membahas kemajuan peradaban, pasti menyebut Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, dan lain-lain,” ujarnya pada acara Pencanangan Pembangunan Rumah Sakit NU Kulonprogo, Yogyakarta, seperti dilansir NU Online, pada Sabtu (31/3).

Kiai Said menjelaskan bahwa ketika Khalifah Mu’awiyah sakit, sementara hanya ada dukun. Maka terpaksa memanggil dokter non-muslim, namanya Sarjius, dipanggil sebagai dokter istana, tinggal di istana. “Dokter Sarjius mendapat putra namanya Yahya atau terkenal dengan Yahya ad-Dimasqi, beliau mengucilkan diri di Palestina, mendirikan ma’had ilmu kalam,” ungkapnya.

Kemudian ketika Bani Abbasiyah menang mengalahkan Bani Umayyah. Raja pertama mereka adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Lalu diganti Abu Ja’far Al-Mansur yang membangun Ibu Kota di Baghdad. Suatu ketika Khalifah Al-Mansur sakit perut, tidak ada dokter muslim. Adanya Jirjis, dokter beragama Zoroaster dari Persia. Diperintah oleh Khalifah untuk membangun rumah sakit pertama di Baghdad, bernama Bimaristan.

“Barulah Islam mengenal ilmu kedokteran, buku-buku kedokteran diterjemahkan atas perintah khalifah Al-Makmun. Kemudian memperluas Baitul Hikmah, menerjemahkan semua ilmu pengetahuan, dari Romawi, Yunani, dan peradaban lain, diambil oleh para khalifah. Jadilah bangunan peradaban Islam yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Pada perkembangan berikutnya, lanjut Kiai Said, banyak penerjemah non-muslim yang menerjemah buku dari bahasa Yunani, Persia, dan sebagainya. Mereka mendapat gaji besar. Dari situlah melahirkan dokter-dokter muslim. Dokter muslim pertama yang terkenal karena mampu mengobati cacar, yakni Muhammad Abu Bakar Ar-Razi dengan bukunya al-haawi, yang sampai sekarang  ada di Sorbonne, Prancis.

“Kemudian lahir Ibnu Sina dengan karyanya Al-Qonun, dan sebagainya. Muncul Jabir bin Hayyan menciptakan ilmu Al-Jabar. Ada lagi ilmuan menyelidiki peredaran darah, yakni Abdurrahman bin Nafis. Ilmuwan penemu navigasi Ahmad bin Majid. Orang pertama kali meneliti astronomi Abdurrahman bin Khauqol. Yang pertama membuat peta Abdullah Al-Idrisi. Menciptakan alat musik seperti organ Abun Nasr Al-Farabi dengan karyanya Al-Musiqol Kubro,” terangnya. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*