Sumber: viva.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Penulis kitab Tafsir Al-Mishbah, KH Quraish Shihab menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga kunci kesuksesan politik Nabi SAW. Ketiga hal itu ialah musyawarah, persatuan, dan politik berorientasi pada kemaslahatan umum. Penjelasan tersebut disampaikan Quraish Shihab pada acara Shihab n Shihab dengan tema “Politik itu Candu” di Jakarta, seperti dilansir NU Online, pada Kamis (26/10).

“Dalam berpolitik perlu ada musyawarah sehingga hasil permusyawaratan itulah yang dilaksanakan,” ungkapnya.

Quraish Shihab mencontohkan, politik Nabi berdasarkan musyawarah ialah peristiwa saat Perang Uhud. Nabi meminta untuk tetap tinggal di kota. Tetapi mayoritas sahabat menghendaki keluar. Nabi pun mengikuti pendapat tersebut.

Menurutnya, konsekuensi kesalahan dari pendapat satu orang lebih besar daripada kesalahan dari hasil musyawarah. “Kesalahan yang terjadi akibat pendapat seseorang itu jauh lebih besar daripada kesalahan yang disepakati oleh banyak orang,” ucapnya.

Prinsip politik Nabi yang kedua adalah persatuan. Demi terwujudnya persatuan, Nabi sukarela berkorban secara lahiriah.” selalu mengarah kepada upaya mempersatukan apa yang terserak,” ujarnya.

Contoh pengorbanan Nabi ialah saat Perjanjian Hudaibiyah. Ketika Sayyidina Umar menolak dengan adanya penghapusan tujuh kata pada naskah perjanjian tersebut. Tetapi, Nabi menerimanya dengan lapang dada. “Kalau perlu berkorban secara lahiriah, itu kita lihat misalnya sewaktu Perjanjian Hudaibiyah,” jelasnya.

Menurut Quraish Shihab, mungkin peristiwa Hudaibiyah inilah yang menjadi inspirasi para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk menghapus tujuh kata pada sila pertama Pancasila. “Ini bisa jadi yang menginspirasi tokoh-tokoh nasional kita yang menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. kita mau cari kesepakatan bersama walaupun dengan mengalah atau Mundur selangkah demi mencapai tujuan yang lebih besar,” tuturnya.

Kemudian prinsip politik yang ketiga ialah berorientasi pada kemaslahatan umum. Nabi mengorbankan kemasalahatan sebagian demi kemaslaahtan umum. “Nabi dalam berpolitik selalu mencari apa yang menjadi kemaslahatan umum,” tambah Mantan Menteri Agama era Kabinet Pembangunan tersebut.

Pada kesempatan itu, Quraish Shihab mengatakan, walaupun demikian, dalam melakukan tindakan-tindakan politik, kita tidak mesti harus persis mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi. “Kita jangan berkata itu (tindakan Nabi dalam berpolitik) harus diikuti karena situasi berbeda,” katanya. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL