Sumber: mui-lampung.or.id

Pringsewu, LiputanIslam.com– Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Provinsi Lampung, KH Munawir menegaskan bahwa Nabi SAW tidak mendirikan negara Islam. Piagam Madinah yang dibuat adalah sebagai landasan atau pedoman dalam mengatur umat dan masyarakat dalam suatu pemerintahan. Menurutnya, antara konsep Piagam Madinah dengan Konstitusi Indonesia (Pancasila) memiliki kesamaan, yakni sebagai kontrak sosial atau kesepakatan bersama.

“Kesamaan konsep antara Piagam Madinah dengan Konstitusi Indonesia diantaranya terletak pada adanya ikatan agama dengan negara. Nabi Muhammad SAW mendirikan negara Madinah tidak melabelkan Negara Islam namun bersifat umum dan berdasarkan atas kesepakatan masyarakat atau kontrak sosial,” katanya di Pringsewu, Lampung, pada Kamis (28/12).

Kiai Munawir menjelaskan bahwa dalam Piagam Madinah, hubungan agama dan negara diletakkan sebagai relasi yang kuat dan resmi. Pluralisme keagamaan dilihat sebagai keniscayaan yang harus dilindungi oleh negara. “Piagam Madinah berisi perjanjian yang benilai strategis bagi Nabi SAW untuk mengembangkan risalahnya dalam menata hubungan manusia muslim dengan Tuhan dan hubungan sesama umat Islam di satu sisi serta hubungan umat Islam dengan non muslim di sisi lain,” terangnya.

Menurutnya, setiap umat dilindungi agama dan hidupnya. “Piagam Madinah Nabi Muhammad SAW tidak memaksa untuk mengubah agama dalam kapasitasnya sebagai Nabi dan kepala negara. Ia hanya mendakwahkan Islam. Soal konversi ke agama Islam tergantung kepada kesadaran mereka,” ungkapnya.

Begitu juga dengan konstitusi Indonesia yang menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berideologi Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar struktur negara. Konstitusi Indonesia meletakkan agama sebagai sumber nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun negara tidak boleh mencampuri urusan internal umat beragama.

“Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Bab XI UUD 1945 menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya,” kata Kiai Munawir. (Ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*