Sumber: nu.or.id

Lamongan, Liputanislam.com– Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Maruf Amin mengatakan bahwa dalam kitab Fathul Muin menghilangkan bahaya yang dialami, baik orang islam maupun non muslim hukumnya fardu kifayah. Baik bahaya lapar, bahaya kurang sandang, kurang papan, dan kurang pelayanan pendidikan. Oleh karena itu, menurutnya santri harus bisa membekali diri dengan keterampilan.

Hal itu disampaikan Kiai Ma’ruf saat mengisi pengajian di Haul KH Musthofa di Pesantren Tarbiyatut Thalabah, Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, pada  Jumat (16/11 ) malam.

“Supaya tidak jatuh miskin, maka santri harus diberi keterampilan atau kompetensi agar bisa mandiri secara ekonomi. Dari pesantren itulah melakukan hukum yang fardu kifayah,” ucapnya.

Menurutnya, selain menyiapkan calon kiai, pesantren mempunyai tugas bersama, yaitu menjaga negara, menjaga umat, dan menjaga agama. Dahulu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Syekh Wahab Hasbullah, Syekh Bisri Sansuri, dan ulama lainnya bersama-sama mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).  “Ulama sejak dulu menjaga negara, untuk bisa mengawal tugas-tugas bersama, dan ulama tidak sendirian,” ungkapnya.

“Makanya ketika negara terancam, ulama ikut tampil. Seperti saat NKRI baru merdeka bulan Agustus, bulan Oktober musuh sudah datang hendak menjajah kembali. Akhirnya muncul fatwa resolusi jihad yang melatarbelakangi perlawanan 10 Nopember di Surabaya,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Ma’ruf juga berpesan kepada para santri zaman now, selain bisa baca Al-Qur’an dan kitab kuning, juga harus bisa baca huruf-huruf yang ada di masyarakat. Artinya, bisa membaca situasi dan mencari solusi, yakni mencari solusi kebangsaan. (ar/NU Online).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*